WAFAT

Ternyata tidak seperti apa yang aku bayangkan. Sesampainya di rumah sakit, aku langsung cari kamar ibu. Aku tanya satpam. “Kamar Dahlia di mana ya?” “itu pojok sebelah timur,” katanya. Langsung aku bergegas ke tempat yang dikasih tunjuk satpam. Deg deg deg, langkah kakiku mulai lemas. Aku nyari kamar nomor 20 sesuai chat yang dikasih tahu masku. Pas masuk ruang Dahlia. Aku lihat nomor kamar kanan kiri. Tiba tiba aku dengar teriakan mirip suara ibuku. Awalnya aku ragu itu suara ibu. Tapi, aku langsung lari ke ujung, ke sumber suara itu.

Lemes dan gak tau harus ngapain. Ibu lagi ngerasa sakit luar biasa. Bapak langsung ngasih aku masker. Pas udah gak sakit, ibu bilang “habis teriak rasanya lega.” Ada kalanya ibu ngerasa sakit. Ada kalanya ibu sudah bisa tenang. Gitu terus sampai malam. Aku gak ada pikiran apa-apa, cuma netes air mata sambil nemenin Ibu nyebut “Allah Allah” atau kalimat Allah lainnya.

Tiap detik ibu selalu nyebut kalimat Allah. Entah Allah Allah, Istighfar, Syahadat dan kalimat suci lainnya. “Ampuni dosaku ya Allah” kata Ibu. “Aamiin Aamiin” kataku. Entah kenapa ibu gak meminta kesembuhan, tapi meminta ampunan. “Doakan ibu wik.” “iya ini dibantu doa.” “Ishom ndi?” kata Ibu. Ishom adalah kakak pas diatasku. Dia gak bisa dihubungi. Ditelepon, di WA, disms, gak dijawab. Geregetan aku. Pas dia balas udah mau magrib. Dia bilang mau ke rumah sakit habis Isya. “Enggak, sekarang aja pokoknya,” kataku. Trus dia datang sebelum magrib.

Habis magrib banyak banget yang njenguk ibu. Mungkin ada tiga puluh orang. Entah kenapa pas mereka berdoa untuk ibu, aku hopeless doa itu bakal dikabulkan. Kayak mustahil. Astagfirullah. Tapi, ini yang aku rasakan.

Malam semakin larut. Seperti yang aku katakana sebelumnya, ada kalanya ibu merasa sakit. Ada kalanya ibu sudah bisa tenang. Sekitar jam 10 malam, bapak, embah mur, masku yang pertama dan kedua mulai tidur setelah seharian nemenin ibu. Jujur aku capek dan laper waktu itu. Tapi, entah kenapa aku gak pengen tidur. Mau nemenin ibu aja. Walaupun kondisi ibu sudah tenang dan mulai tidur. Tanganku selalu pegang tangan ibu.

Tiba-tiba ibu meminta sesuatu yang tidak bisa aku ceritakan disini. Beberapa saat setelah itu, ibu merasa sakit yang luar biasa. Napasnya sesak. Dipakein oksigen sudah gak mau. Tambah sesak katanya kalau dikasih oksigen. Aku langsung lari ke tempat dokter buat minta obat atau apalah. Pas sudah sampai, suster bilang “udah pakein oksigen aja.” Wah gak ngerti lagi. Aku balik lagi ke kamar ibu. Pas sampai, ibu lagi ngerasa sakit. Ibu bilang “jangan lama-lama ya Allah, kasihan aku.”

Intinya di detik detik itu, kami (aku, bapak, mas pertama, dan mbah mur) selalu nemenin ibu bilang kalimat kalimat Allah. Kalau ibu melenceng bilang yang lain kayak “wik wik” atau apa, Kami selalu mengembalikan “Allah Allah buk.”

Entah berapa menit, ibu gak pakai oksigen. Karena pas aku pasang, ibu gak nyaman dan merasa sesak. Tapi, aku bilang “ini buat mbantu napas bu.” Ibu tetap gak mau.

Tiba-tiba ibu berhenti ngomong. Bener-bener gak ada suara. Pas itu aku langsung pegang pundak masku, sambil netes air mata. Lalu aku bisikan syahadat di telinga kiri ibu. Pas aku udah selesai baca, Ibu menghembuskan nafas terakhir. Mbah bilang “kamu tega ninggalin kami.”

Pas saat itu aku masih gak percaya. Aku lihat dada ibu masih bernapas. Ibu cuma tidur, pikirku. Aku langsung lari panggil dokter dan masku yang kedua yang tidur di luar. Dengan perlengkapan yang ada, dokter memastikan kondisi ibu. Dokter bilang “Niki pun mboten enten pak.” (Ini sudah gak ada, katanya.)

Langsung aku lemes, nangis sesegukan. Masku ngabarin keluarga di rumah buat nyiapin semuanya. Aku sempat telefon dua sahabatku, hanya suara tangis yang aku berikan. Pas tangisanku sudah agak reda, embah bilang “Kenapa ibumu sudah dipanggil sedangkan mbah kakungmu yang sudah lama sakit belum juga dipanggil wik? Karena Allah sayang sama ibumu. Nih dibayangkan, Ibu wafat pas hari Jumat, hari yang bagus bagi umat Islam. Ibumu selalu nyebut nama nama Allah. Rasa sakitnya itu itu buat menghapus semua dosanya. Ibumu wafat juga pas sudah ketemu semua anak-anaknya. Sekarang kamu punya simpenan buat doain ibumu.”

Administrasi rumah sakit sudah selesai diurus. Malam semakin larut sekitar jam 12 atau satu. Kami menyusuri lorong rumah sakit. Kami mengantar ibu ke ruang jenazah. Di Ruang jenazah, Masku yang pertama dikasih Surat Kematian. Setelah itu, Ibu dimasukan ke dalam ambulance.

Kekhawatiranku selama ini adalah ketika aku pulang dari Jogja aku melihat bendera putih di depan gang rumahku. Kekhawatiranku tidak terjadi. Yang terjadi adalah pulang mengendarai motor bareng kedua masku (masing-masing mengendarai motor) di tengah malam dengan ditemani hujan gerimis. Ambulance yang mengantar ibu sudah duluan di depan. Selama perjalanan ke rumah, aku cuma lemes dan beberapa kali nangis di jalan.

BERSAMBUNG

Iklan

FIRASAT

Sekitar dua minggu sebelum 9 Maret 2018, aku mimpi ibu  tiga kali berturut-turut. Pertama, mimpi ibu duduk di ranjang kasur dengan bengkak seluruh tubuh. Kedua, mimpi ibu ngeluh gak bisa napas. Ketiga, mimpi paman mempersiapkan sesuatu (yang saya gak tau) dan menyuruhku untuk ikhlas.

Akhir pekan, aku putuskan untuk pulang kampung. Aku kangen. Eh sebelum akhir pekan, mbaku bilang “ibu udah seminggu sakit.” Deg. Keinginan untuk pulang semakin menjadi jadi. Alhamdulillah kuliah di hari Rabu kosong. Jadi, Rabu pagi (28/2), aku langsung pulang ke Kebumen tanpa berpikir panjang.

Pas sampai di Kebumen, iya ibu udah gak melaksanakan aktivitas apa-apa. Ibu baru periksa ke dokter katanya. Jadi sering minum obat. Ibu masih terlihat sehat-sehat saja. Hatiku sedikit lega. Jumatnya, aku putuskan balik ke Jogja karena besoknya ada pembakalan KKN. Hari Selasa minggu depan juga akan ada arisan keluarga di rumah dan sepupu mau nikahan. Rumah pasti ramai. Bapak Ibu nanti gak kesepian.

Hari Selasa sore (6/3), pas arisan keluarga,  bapak telepon “Koe gowo KK ora?” “hah?” kataku. “Koe gowo KK ora?” bapak mengulang. Oh kartu keluarga. “ora pak.” Bapak jawab “yo wis” lalu telpon ditutup. Hatiku langsung galau. Ngapain nyari KK? Ada dua kemungkinan yang aku pikirkan. Pertama, bapak mau ke kelurahan ngurus sesuatu. Kedua, bapak mau ke rumah sakit.

Benar. Mbaku ngechat “ibu mau dibawa ke rumah sakit.” Wah campur aduk perasaanku. Langsung aku tanya macem-macem. Sampailah pada kenyataan “ibu diopname.” Galau lah aku. Akhir pekan pilih ikut survei ke Merbabu atau pulang ke kampung. Kebetulan untuk survei ke Merbabu cuma empat orang termasuk aku. Jadi ngerasa gak enak kalau meninggalkan teman-teman. Kalau aku gak pulang kampung, perasaanku gak karuan. Aku takut kalau ikut survei, terjadi apa-apa di rumah. Aku putuskan untuk gak ikut survei dan izin ke ketua acara.

Sebelum pulang kampung, aku nyelesaiin semua tugas kuliahku. Aku gak mau ada beban pikiran tentang tugas. Jumat siang (9 Maret), setelah kelas aku langsung pulang ke Kebumen. Hawanya panas banget di jalan karena pas jam satu siang. Di jalan, aku mikir mau langsung ke rumah sakit atau rumah. Keputusanku langsung ke rumah sakit. Toh di rumah juga pasti sepi. Aku juga kepikiran ibu lagi apa ya? Paling lagi goleran di kasur dan bapak paling lagi ngobrol sama penunggu kamar sebelah.

BERSAMBUNG

But, he (Dad) lies

Dia bohong tentang mempunyai uang, dia bohong jika dia tidak capek, dia bohong kalau dia tidak lapar, dia bohong kalau kita punya segalanya, dia bohong tentang kebahagiaannya, dia bohong karena saya.

Hey, manusia yang tak kenal lelah. Hey, manusia yang selalu bekerja keras. hey, manusia yang selalu ada saat kita butuh dan hey manusia yang telah berbohong. Hey my Dad. You are my everything for me, for our family. Thanks for your lie.

Sabtu, 27 Februari 2016 genap sudah usia beliau yaitu 57 tahun. Usia yang sudah tidak muda. Usia yang seharusnya bisa menikmati hasil kerja kerasnya di masa muda. Usia yang seharusnya sudah merasakan indahnya hidup setelah berusaha keras di waktu muda. Maafkan buah hatimu yang jauh dari kata sempurna untuk membahagiakanmu. Masih saja merepotkanmu. Masih saja membuatmu gelisah. Masih saja tak menghiraukan pesanmu. Maaf.

Bagaimana rasanya menjadi Ayah selama lebih dari 30 tahun? membesarkan, mendidik dan membiayai seorang istri dan lima orang anak. Pasti tak mudah kan?. Tapi semua terlewati dengan baik oleh mu. Sangat baik. Tak peduli cerita orang. Kau tetap yang terbaik. Satu cerita yang tetap teringat di pikiranku. Tentang sebuah sepeda yang ku kendarai ke Kampus setiap hari. Bodoh rasanya jadi aku. Merengek hanya untuk di belikan sepeda padahal sudah ada sepeda yang lama. Beberapa hari kemudian, tibalah sepeda itu di depan rumah kita. betapa bahagianya aku dan kamu. Sungguh bahagia yang sempurna di hatiku. Namun … tidak untuk hatimu (lihat kutipan pertama). Anyway, Terima kasih untuk kebohonganmu yang bermaksud baik yaitu membuat anaknya tersenyum bahagia. Kebohonganmu bukan suatu dosa tetapi sebuah pahala yang amat besar. Thanks we love you!