Diposkan pada #31harimenulis

Dia yang Mengajariku Selingkuh

Dia mengajariku selingkuh dari dunia yang sementara ke akhirat yang kekal. Dia yang mengingatkanku akan tiga pertanyaan dasar dalam hidup.

Dari mana kita berasal?

Apa yang akan kita lakukan di dunia?

Ke mana kita kembali setelah selesai dunia ini?

Tiga pertanyaan hidup yang menjadi dasar menjalani hidup. Atas pengetahuan yang saya tahu, jawaban atas pertanyaan itu adalah kita berasal dari Tuhan, di dunia ini untuk beribadah dan kita akan kembali kepada Tuhan. Kita sadar bahwa hidup di dunia ini hanya numpang minum. Bayangkan betapa cepat waktu di dunia ini. Untuk apa mengeluh menjalani hidup? lebih baik mengkhawatirkan dosa yang telah kita perbuat, memohon ampun dan tidak menlakukannya lagi.

Kesibukan sekolah, kuliah atau kerja membuat kita lupa akan kehidupan akhirat. Berangkat sunrise pulang sunset. Pulang ke rumah sudah capek. Hubungan antar manusianya baik, hubungan dengan Tuhan?

X: Nabi Muhammad saja bisa beribadah sehari 24 jam masa kamu gak bisa?

Y: Lah, Muhammad kan seorang nabi ya gak bisa kita tiru lah

X: Trus kalau gak niru Nabi Muhammad, mau niru siapa? artis?

Y: lah trus bagaimana caranya untuk beribadah 24 jam full? pas lagi tidur bagaimana?

Ada cara untuk kita beribadah 24 jam sehari. Dengan cara apa? ketika kamu melakukan sesuatu niatkan itu untuk beribadah kepada Tuhan. Mau sekolah, kuliah atau kerja niatkan untuk mencari ilmu dan mencari rezeki. Mau ke toilet pun berdoa. Mau tidur juga berdoa untuk mengistirahatkan tubuh. Insha Allah itu bernialai ibadah. Karena setiap perilaku yang kita tergantung pada niat kita.

Dia yang mengajariku adalah sahabatku.

 

Diposkan pada #31harimenulis

Tugas di Hadapan Kita Tak Pernah Sebesar Kekuatan di Belakang Kita

Sekarang (April 2017) saya sudah menjalani menjadi seorang mahasiswi Ilmu Komunikasi di UGM semester 4. Semester 4 dan 5 itu puncak-puncaknya tugas kuliah. Kata Mas dan Mba Dosen Komunikasi. Awal kuliah masih enak, tugas masih dikit. Dosen ngasih tugas lama sebelum deadline. Sekarang? hmm udah kayak gunung. Apalagi peminatan Jurnalisme, mesti liputan ke sana ke mari. Keliling Jogja dari ujung ke ujung. Panas dan hujan kadang jadi halangan. Namun, halangan terbesar adalah susahnya menemui narasumber.

It’s almost done! Semester 4 sudah mau berakhir guys. Tapi, masih banyak tugas. Banyak banget temenku yang spaneng. Rela gak masuk kelas demi liputan. Rela habis duit banyak demi liputan. Rela panas-panasan ataupun hujan-hujanan. Hadiahnya sederhana tapi bikin lega yaitu hasil liputan kami diterbitkan di situs wargajogja.net (silahkan dibuka) hehe.

Saya selalu berkata “time zone.” Setiap orang punya time zonenya masing-masing. Bukankah Tuhan menjawab doa dengan tiga cara? Ya, maka doamu terkabul. Tidak, maka ada yang lebih baik. Tunggu, akan ada waktu yang tepat untuk mengabulkan permintaanmu. Jangan spaneng kalau tugasmu belum selesai. Jangan spaneng kalau kamu belum wisuda. Jangan spaneng kalau belum nemu pasangan. Relax, everything has time zone. Jalani, nikmati dan syukuri.

Ketika kamu diberi tugas berarti kamu mampu mengerjakannya. Kalau dirasa tidak bisa menyelesaikannya, bukan berarti memang kamu tidak bisa. Tapi, kamu belum mencobanya. Cobalah, Tuhan tidak menuntumu untuk selalu berhasil mengerjakan Tugas. Tuhan hanya menyuruhmu untuk mencoba. Hasilnya serahkan pada Tuhan. Karena tidak ada hasil tanpa usaha dan usaha tidak akan mengkhianati hasil. Ingat, kamu lebih dari apa yang kamu bayangkan. Selamat berkarya jiwa-jiwa muda.

Diposkan pada #31harimenulis

Tentang Pacaran

“Kita tak pernah kalah karena mencintai seseorang, kita kalah karena tidak berterus terang” (Barbara DeAngelis)

Mencintai itu fitrah. Menyukai itu pasti. Mengungkapkan itu wajar. Bagi laki-laki mengungkapkan perasaan itu wajar. Bagi perempuan? entahlah banyak dinamika di sana. Ini bukan tentang hukum perempuan mengungkapkan perasaan. Ini tentang apa yang kamu rasakan.

Usia 17-20 tahun itu usia yang penuh gejolak. Wajar kalau perasaanmu kadang baik kadang buruk. Wajar. Wajar juga kalau kamu mulai menyukai seseorang. Bila itu datang di waktu yang tidak tepat, jangan hilangkan rasa itu. Biarkan ia tetap mengalir. Bisa jadi itu anugrah, bisa jadi musibah. Kita hanya perlu menyederhanakan rasa itu. Kalau nanti orang itu pasangan hidupmu bersyukurlah, kalaupun bukan, patah hatimu takkan patah seluruhnya.

Bener kata bang Barbara De Angelis (quote di atas). Menurut saya berterus terang di sini bukan hanya tentang mengungkapkan lewat lisan. Namun, juga lewat perbuatan. Kalau kamu menyukai seseorang, jaga dia bukan rusak dia. Kalau kamu menyukai seseorang, komunikasikan pada dia bukan orang lain. Jangan jadi pecundang hanya mampu memberika kode yang mungkin tidak dimengerti. Kalau belum siap, jangan pernah putuskan untuk menjalin “relationship”.

Selagi dewasa muda (17-20), manfaatkan itu. Ada banyak hal yang bisa kamu lalukan untuk berterus terang padanya. Dengan cara apa? banyak. Belajarlah dengan rajin dan tekun karena saya yakin, seseorang akan memilih pasangan yang pintar daripada bodo. Berlakulah baik, 99% tipe pasangan yang dicari adalah baik. Right? may be. Berdoalah pada pemberi hati, yang membolak-balikkan hati seseorang. “Ya Tuhan balikan hatinya untuk mencintaiku.” Bukan, “Ya Tuhan semoga hatinya untukku.”

Diposkan pada #31harimenulis

Filosofi Pohon

Teringat cerita seseorang, bahwa dalam hidup hanya ada dua tipe pohon. Pohon yang tinggi menjulang dan pohon yang lebar meneduhkan.
.
Ibarat hidup, pohon yang tinggi menjulang adalah orang yang selalu mengejar cita-cita nya setinggi langit. Pohon ini lebih sering di pandang orang. Tapi, ia tak memiliki tempat teduh yang luas.
.
Sedangkan, pohon yang lebar meneduhkan, ia tak terlalu memaksakan setinggi apa dia mencapai kehidupan. Ia hanya memikirkan sebisa apa dia bisa meneduhkan bagi orang, sebisa apa dia bisa bermanfaat bagi yang lain.

Seseorang itu adalah kakak tingkat dari Fakultas Kehutanan. Saya pernah ketemu dua kali. Pertama, malam hari di sekre mereka ketika mengirimkan undangan pembicara untuk persiapan penelitian. Kedua, siang hari ketika dia datang ke tempat kami. Kami ngobrol masalah penelitian di Semeru tentang ekowisata. Kebetulan dia pernah melakukan ekspedisi di BTNBTS (Balai Taman Nasional Bromo Tengger Semeru). Sharing lah kita tentang berbagai hal.

Satu hal yang melekat di pikiranku tentang hanya ada dua tipe pohon di dunia ini. Loh bukannya tipe pohon tuh banyak banget ya? iya. Maksudnya di sini adalah tipe pohon yang sudah saya sebutkan di atas. Pilihan orang memang berbeda. Setiap pilihan yang dipilih ada alasan dan konsekuensinya. Tinggal bagaimana kita mengelola semua. Kalau ditanya, pasti semua orang menginginkan pohon yang tinggi dan rindang. Sama saya juga.

Masing-masing kita pasti sedang membangun tangga untuk mencapai langit. Kita ingin semuanya terlihat, besar dan terpampang. Semua orang memikirkan hal itu. Saya yakin. Tapi, apa kita sadar bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Percuma karier cemerlang, tapi keluarga tercampakkan. Tetangga gak ada yang kenal. Miris. Semua orang ingin jauh dan tinggi, tapi yang didekatnya terabaikan.

Jadilah pohon yang rindang dan menyejukan. Tak perlu menjadi pohon yang terlalu tinggi KALAU tidak bisa bermanfaat untuk orang lain. Menjadi penting itu baik tapi lebih penting jadi orang baik.

#31harimenulis

Diposkan pada #31harimenulis

Sayapku Pernah Patah

Kamu dilahirkan dengan sayap. Mengapa kamu lebih suka merangkak menjalani hidup? -Rumi
.
Sayapku patah (:
.
Burung yang sayapnya patah hanya perlu disembuhkan. Tapi, kala pulih burung itu dapat terbang lebih tinggi daripada burung yang lain -Jim Hullihan

Sayap saya pernah patah. Saya pernah menanyakan pada Tuhan. Ya Tuhan mengapa sayap saya yang harus patah? Mengapa di saat seperti ini ya Tuhan. Tuhan tidak menjawab langsung. Tuhan menjawabnya lewat tulisan yang saya baca. Kurang lebih tulisannya seperti ini

Seseorang sedang mengalami penyakit kanker. Tubuhnya kian hari kian renta. Namun, ia tetap menjalani hidup seperti biasa. Ia tetap tersenyum. Suatu hari tubuhnya sudah tak kuat menahan beban. Ia terbaring di rumah sakit. Ia tetap tersenyum. Seseorang bertanya padanya, mengapa kau tetap tersenyum menjalani hidupmu yang seperti ini?

Dia menjawab, mengapa seseorang selalu menanyakan alasan ketika Tuhan memberikan ‘sesuatu’ yang dianggap buruk padanya? mengapa seseorang tersebut tidak pernah bertanya alasan ketika Tuhan memberikan ‘sesuatu’ yang dianggapnya baik? Ketika kita melihat orang lain pincang, kita tidak pernah bertanya pada Tuhan. ya Tuhan mengapa bukan saya saja yang pincang? Ketika kita melihat orang lain tertimpa musibah, kita tidak pernah bertanya mengapa bukan kita yang tertimpa musibah?

Ketika kita diberikan mobil, kita tak bertanya mengapa saya yang diberi mobil? Ketika kita diberikan anak, kita tak bertanya mengapa saya yang diberi anak? Dan semua anugrah-anugrah lain yang Tuhan berikan.

Apakah adil ketika kita yang dari lahir diberikan kesempurnaan fisik selama ini masih ragu dengan takdir Tuhan? Bukankah Tuhan memberikan sakit untuk menghapus semua dosa-dosa kita? percayalah Tuhan memberikan semua yang terbaik kepada kita selama kita mau bersyukur dan bersayabar.

Sayap kita akan patah, itu pasti. Setiap manusia akan diberi cobaan. Seberat apapun cobaan kita, jangan pernah mengeluh. Tuhan hanya menyuruh kita untuk mencoba bukan berhasil. Hasilnya serahkan pada Tuhan. Satu hal ketika sayap kita patah, jangan pernah menyerah. Namun, berhentilah sejenak. Renungkan kembali apa yang sudah terjadi. Sembuhkan sayapmu itu, bukan malah mematahkannya kembali.

#31harimenulis

Diposkan pada #31harimenulis

PPSMB Palapa 2016 (Hari ke 1,2,5 dan 6)

PPSMB Palapa merupakan gerbang bagi mahasiswa baru untuk melangkah di dunia perkuliahan. Gerbang ini terbuka lebar untuk semua orang mau, tahu, dan mampu menjadi Mahasiswa UGM. Penjelasan panjang ketika kita membicarakan siapa orang yang mau, tahu, dan mampu. Gerbang ini dibuka secara perlahan. Seperti layaknya orang-orang yang berkeliaran di pasar di pagi hari, begitu jugalah kedatangan mahasiswa baru di UGM pagi itu. Wajah-wajah penuh semangat, gairah, dan kebahagiaan.

Selalu senyum, itu ungkapan yang sering saya lontarkan ke partner saya. Pagi-pagi buta, kami seluruh panitian PPSMB Palapa 2016 berkumpul di MAsjid Kampus UGM. Briefieng itu sangat penting. Idealisme mahasiswa berpadu semua di sana. Mempersiapkan segalanya hingga tak ada satu pun tersisa. Termasuk memohon doa restu sang Pencipta. Doa restu yang akan mengabulkan idealisme para panitia. Hari pertama, kedua, kelima, dan keenam selalu dilakukan briefing pagi di Masjid Kampus.

Bertemu dengan mahasiswa baru adalah hal yang kami tunggu. Menyambutnya dengan bahagia adalah tugas dan tanggungjawab yang harus kami emban. Semua terasa ringan dan sederhana karena sudah disiapkan secara matang. Tidak akan saya ceritakan secara detail kegiatan selama empat hari di universitas. Biarlah itu menjadi sebuah kenangan dan pengharapan kembali.

Ada cerita, tawa, dan bahagia. Momen paling membahagiakan tentu ketika penutupan PPSMB Palapa. Kerja keras kami selama berbulan-bulan berhasil. Melakukan formasi lebih dari 9000 mahasiswa baru di lapangan Grha Sabha Pramana. Tidak tanggung-tanggung lima formasi sekaligus. Mulai dari bendera merah putih, kepulauan Indonesia, Garuda, logo Asean dan yang paling ditunggu-tunggu adalah logo PBB.

Apa jadinya kalau formasi ini tidak jadi. Barang satu orang yang salah membuka kertas asturonya. Barang satu orang yang ketuker tempat. Barang satu orang yang tidak siap membuka asturonya. Semuanya sirna seketika ketika pembawa acara memberikan aba-aba pertama. SEPERTI SIHIR, FORMASI PERTAMA JADI. Semua panitia pasti meneteskan air mata. Tanda bahwa usaha tidak ada yang sia-sia.

PPSMB Palapa 2016 merupakan kegiatan ospek yang pertama kali dilakukan di Indonesia di tahun itu. Hal ini juga berarti menjadi awal dan pandangan awal. Kami tak mau mengecewakan. Kami memberikan semua hal yang terbaik. Merelakan semua pengorbanan. Rasa syukur kami kepada Tuhan. Terima kasih kami kepada panitia yang sudah bekerja keras. Besar harapan kami untuk PPSMB Palapa 2017 menjadi yang terdepan dan terbaik. Semoga.

#31harimenulis

Diposkan pada #31harimenulis

H-1 dag dig dug bukan main

Perasaannya sama kayak kamu mau ujian nasional. Perasaannya sama kayak kamu mau ikut event nasional. Perasaannya sama kayak kamu mau ketemu pacar. DAG DIG DUG gak jelas. Antara bahagia, tegang, takut, khawatir dan lain sebagainya. Kayak nano-nano, rame rasanya. Hal yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Rasanya cepet banget ngerasain pra ppsmb. Walaupun banyak kegiatan, banyak kumpul. Hari H PPSMB Palapa 2016 datang gaes.

Beberapa hari sebelumnya, kami gladi resik di GSP untuk merangkai semuanya terutama formasi. Hmm dag dig dug kalau formasi gak jadi. Apalagi ada kendala yang tidak bisa ku sampaikan. Hmm panas, haus, capek semuanya dilakukan di lapangan gsp. Ada pembagian slayer dan co-card untuk seluruh panitia PPSMB Palapa. Bahagia jelas waktu itu rasanya. Langsung deh foto-foto di depan GSP menggunakan slayer.

Sehari sebelumnya, ada hari tenang. Di hari tenang itu saya dan partner saya mencoba untuk merangkum apa saja yang akan dilakukan di hari pertama. Malam hari pertama kami mempersiapkan untuk hari ke dua, begitu selanjutnya. Menjadi panitia berarti mencoba datang lebih awal dan memersiapkan lebih awal. Gugup malam harinya, mempersiapkan apapun yang akan diguanakan, jangan sampai ada yang ketinggalan. MALU sama MABA. Semuanya kami persiapkan dengan baik. Kami persiapkan berdua. Saya sampai tidur di kos mba WW (partener saya) agar tidak telat datang. Akan ada Konsekuensinya.

Setelah mempersiapkan semuanya, kami berniat istirahat. Tapi, kami tidak bisa istirahat langsung ternyata. Pikiran dan hati kami terpenuhi oleh PPSMB. Hari pertama PPSMB bagaimana, kita lihat besok, Hehe

#31harimenulis

Diposkan pada #31harimenulis

Training Of Trainer (TOT) Cofas

Practice makes perfect

Menjadi cofas berarti menjadi role model pertama yang dilihat mahasiswa. Harus memberikan kesan baik. Mahasiswa baru yang masih polos akan menerima apapun informasi yang diberikan. Mereka akan meniru dan mencontoh kehidupan perkuliahan lewat orang yang dikenalnya. Paling tidak cofas adalah orang yang pertama dia kenal diperkuliahan selain kerabat dekatnya yang mungkin kuliah disana. Untuk itulah cofas dituntut berperilaku, berkata dan berpakaian yang sopan. Caranya dengan dilakukannya training of trainer atau TOT.

Sedikit informasi, dalam satu kelas ada dua cofas. Satu diantaranya akan menjadi trainer. Artinya mereka bekerja lebih pada hari ke 5 dan 6. Sedangkan cofas akan bekerja di hari 1 dan 2.  Saya menjadi cofas dan rekan saya menjadi cofas sekaligus trainer. Maklum saya masuk UGM 2015 dan Mbak WW (partner saya) masuk UGM 2014. TOT dilaksanakan 3 hari berturut-turut. Dua hari pertama untuk cofas dan hari ke tiga khusus untuk trainer. Awalnya saya dijadwalkan hari pertama dan kedua. Karena dijadikan cadangan trainer maka Saya hadir juga di hari ke tiga.

Kita belajar banyak dari TOT. Belajar bagaimana menghadapi orang yang cuek, bandel, over, dan lain sebagainya. Belajar bagaimana mengatur kelas yang tidak kondusif. Belajar bagaimana menyampaikan materi. Intinya kita belajar di TOT ini. Belajar bersama  dosen psikologi UGM di fakultas psikologi.

Hari ke tiga, ruangannya berbeda dengan hari 1 dan 2. Dosennya pun berbeda. Kali ini berasal dari Peternakan UGM. Beliau bercerita kalau pernah mendapat IP 2. Beliau tidak minat untuk kuliah di peternakan tapi karena suatu hal, beliau akhrinya kuliah disana. Beliau sadar gak bisa begitu terus di awal-awal semester mendapat IP 2. Meskipun IP bukan segalanya tapi IP juga nanti akan menbantumu kan? setidaknya membuat orang tua bangga.

Beliau bangkit. Beliau mendengarkan segala yang diucap dosennya. Beliau mencatat kegiatannya sehari-hari membagi kuliah dengan organisasi. Beliau berfikir untuk mendapat IPK bagus maka ia harus menutupi IPnya yang jelek. Usaha tidak pernah mengkhianati hasil gais. Beliau berhasil mendapatkan IP 4 di semester berikutnya. Jauh kan? iya sama jauhnya dengan usaha yang beliau lakukan. Usaha tidak akan mengkhianati hasil.

Pelajaran dari TOT adalah percayalah bahwa semua orang tidak akan bisa melakukan apapun tanpa berlatih. Kamu tidak akan bisa berjalan tanpa orang tua mu melatihmu. Kamu tidak mungkin lahir langsung makan nasi. Kamu perlu minum ASI, lalu makanan lembut, sampai gigimu tumbuh untuk mengunyah nasi. Semua itu proses, nikamti prosesnya maka akan kau dapatkan hasilnya.

#31harimenulis

Diposkan pada #31harimenulis

Ke Joglo Tani untuk Bonding Cluster

Satu hal, saya lupa nebeng siapa pas ke Joglo Tani 😦

Perlu banget bonding dengan teman-teman kepanitiaan. Why? karena kita bakal kerja bareng. Gak enak kan kalau kerja bareng tapi hatinya gak sreg. Mau melakukan itu tapi takut ini itu. Takut orang lain gak suka lah dan sebagainya. Tugas cofast kan juga membantu para maba untuk kenal lebih dekat. Masa iya antar sesama cofast tidak dekat. Pelajaran juga buat kepanitiaan-kepanitiaan lain. Perlu banget yang namanya bonding, bukan hanya pas rapat aja kalau kumpul. Biasanya ide-ide cemerlang datang pas bukan rapat. Anyway mari saya antarkan Anda ke cerita Bonding Cluster Agro Barat.

Dua hal, saya lupa ini pas puasa atau setelah lebaran 😦

Agro barat memilih untuk main ke Joglo Tani di daerah Godean (sebuah negara bagian di Yogyakarta) *kidding.* Mengapa memilih Joglo Tani? Karena kita Agro Barat (Fak. Pertanian, Fak. Teknologi Pertanian dan Fak. Kehutanan). Di Joglo Tani kita bebas bermain dan belajar. Ada ternak dan kebun.Ternaknya ada Ikan, Sapi, Bebek dan Ayam. Tanamannya ada cabe, padi dan lain-lain *apalagiyak.* Lumayan adem tempatnya. Seperti namanya, terdapat joglo di tengah-tengah halaman. Enak buat ngadain acara tuh.

Apa saja yang kita mainkan? Banyak. Permainan-permainan sederhana yang dipimpin oleh Subkoor Cofast. Misal, main “Pak Polisi berkata…” Rule mainan ini ketika ada teman kita yang berkata “Pak polisi berkata angkat tangan” (atau apapun perintahnya) maka kita wajib, kudu, untuk mengangkat tangan. Tapi kalau teman kita cuma bilang “angkat tangan” kalian jangan mau. Soalnya pak polisinya gak nyuruh. Gitu pokoknya. Kalau awal main pasti banyak yang bingung.  Masih banyak lagi permainan yang seru, tapi disimpan aja ya hehe.

Seperti biasa setiap main, pasti selfie. Iya gak? paling gak grufie lah ya. Agak gimana gitu, kalau ada orang foto di depan gedung atau bangunan. Apaan sih pake foto segala kan kita bisa ke sini lagi. Kalau saya pribadi lebih senang foto (sendiri atau bareng) di alam terbuka, yang masih banyak pohon-pohon rindang. Asyik. Tapi akhir-akhir ini baru nyadar, bahwa setiap foto memiliki seni dan cerita tersendiri. Tempat sesederhana apapun, kalau kita pinter motret bakal jadi bagus. tempat sebagus apapun kalau kita gak pinter motret, ya tetep bagus karena itu Ciptaan Tuhan. Tapi ya hasilnya tidak memuaskan.

Berselfielah, bergrufie lah. Selama itu tujuannya untuk mengabadikan moment bersejarah dalam hidupmu. Tapi jangan keseringan selfie. Apalagi sekarang sudah ada instastory atau snapgram, bisa update tiap waktu. Saya pribadi kurang suka dengan  orang yang tiap hari kerjaannya nampangin muka sendiri di snapgram. Ampun. Percayalah semakin kalian sering foto atau bercermin semakin kalian tidak percaya diri. Selalu melihat kekurangan apa yang nampak pada wajah. Kecuali, kalau hapenya punya kamera yang canggih bisa mulusin tuh muka, meyotin pipi, merahin bibir. Makin gak tau aja nanti muka kita sebenarnya.

#31harimenulis

Diposkan pada #31harimenulis

Ketemu Teman Seper-ngapak-an di Second Gath Palapa

Tepat seminggu setelah lebaran, kita dikumpulkan lagi alias second gathering di PKKH UGM. Suasana lebaran memungkinkan kita memakai pakaian serba putih. Kalau ditanya masih pengen liburan apa enggak, jawabannya pasti masih. Kan sudah biasa libur panjang pas lebaran eh, sekarang cuma seminggu. Tapi, kalau ditanya berat apa engga untuk pergi ke Jogja lagi. Kalau aku sendiri enggak. Soalnya menjadi panitia ppsmb palapa sudah menjadi tanggung jawabku. Toh kepanitiaan ini juga menyenangkan. Tidak seperti kepanitiaan pada umumnya yang sangat membosankan dan dituntut deadline.

Saya asli dari Kebumen, Jawa Tengah. Iya bener ngapak, bener banget. Pasti kalau ketemu orang baru langsung disuruh, coba ngomong ngapak. Hmm kenapa gitu? Lucu aja kalau denger orang ngapak, katanya. Jadi temen-temen kalau mau hidupnya bahagia bertemanlah dengan orang ngapak. Apalagi dijadikan teman hidup. Tapi kalau aku disuruh ngomong ngapak pasti gak mau. Kenapa? karena malu? NO! karena udah lupa bahasa ngapak? GAK MUNGKIN COY!. Alasannya saya tidak suka disuruh-suruh. Haha

Kembali ke second gath palapa. Di acara itu saya bertemu dengan teman LMGM (Lawet Muda Gadjah Mada) atau perkumpulan mahasiswa UGM yang berasal dari Kebumen. Namanya Adit. Gimana orangnya? aku juga gak tau  haha. Beda SMA dan beda Fakultas. Waktu itu aku ingatnya ketemu dia di pertemuan LMGM, tapi gak tau siapa namanya. Karena gak yakin tuh Adit apa bukan makanya gak berani negur.

Singkat cerita, di second gath itu kita belajar koreo untuk lagu ppsmb palapa. Mulai dari awal, kita koreo bareng di gedung PKKH. Setahu saya sih semakin banyak orang hasilnya akan kurang bagus. Mungkin karena itu juga dibagilah percluster. Ada yang latihan di dalam gedung dan di pelataran. Nah setelah latihan baru deh karena ada anggota baru si Adit itu, jadi dia perkenalan. Oh ternyata dari Kebumen oh. Begitu ceritanya bertemua orang seper-ngapak-an.

Bangga menjadi orang Kebumen. Iya Kebumen kota kecil yang gak ada Mall. Kenapa gak ada Mall? Pemerintah Kabupaten Kebumen ingin melindungi pedagang-pedangan pasar. Di Kota Kebumen sudah ada 2 supermarket besar. Akibatnya pasar Kebumen menjadi sepi pengunjung. Bayangkan kalau ada Mall. Bukankah lebih enak berbelanja di tempat ber-ac dan bersih? Selain itu, Kebumen juga ingin tetap melestarikan alam. Coba kalau ada Mall, berapa luas sawah yang harus direlakan untuk gedung Mall, parkiran dan lain-lain. Kita bisa produksi beras sendiri untuk apa harus beli beras impor di Mall? Kebumen juga memiliki banyak  wisata alam terutama pantai dan gunung. Next time saya akan bercerita keindahan alam kebumen. Karena masih banyak cerita tentang PPSMB Palapa 2016.

nb: orang ngapak yang lagi pegang hape.

#31harimenulis