Main ke Kaki Gunung Sumbing Sindoro

Minggu pertama kuliah, aku putuskan untuk pergi ke luar kota. Aku gak mau menghabiskan akhir pekan hanya dengan bersemayam di kosan. Kebetulan, Sarah, teman dekatku mengajak ke rumahnya di Temanggung, Jawa Tengah. Tanpa pikir panjang, aku langsung bilang “ikut.” Temanggung dekat dengan Gunung Sumbing, Sindoro, dan Prau. Jadi, mari kita sebut Temanggung sebagai Kaki Gunung Sumbing Sindoro. Ini catatan perjalananku selama di Temanggung tentang suasana, tempat wisata, kuliner dan sera serbinya.

  1. Alun-alun Temanggung

IMG_20180209_184836

Jumat sore, kami (Aku dan Sarah) berangkat dari Jogja ke Temanggung dengan waktu tempuh sekitar 2,5 jam menggunakan sepeda motor. Sebelum sampai, kami mampir ke alun-alun Temanggung. Alun-alun Temanggung tidak seperti alun-alun biasanya yang terbuka dan lapang. Alun-alun Temanggung tertutup tembok dan terlihat seperti benteng. Ukurannya tidak terlalu luas dibanding alun-alun Kebumen (tempatku lahir). Hal yang menarik perhatian yaitu ikon tulisan “Kota Tembakau,” air mancur, dan pohon besar yang ikut tersorot cahaya dari lampu air mancur. Ya, Kota Temanggung memang terkenal dengan tembakaunya.

  1. Jembatan Sikrikil

IMG_7445

Kami sampai di rumah Sarah sekitar jam delapan malam. Pas sampai rumah aku kaget, kita masuk sampai ke dapur pakai motor. Melewati ruang tamu dan ruang TV. Lucu banget parkirnya di dapur, speechless aku. Kami langsung dipersilahkan makan malam. Balungan (tulang ayam) itu menunya. Ibunya Sarah pintar masak gak kayak Sarah. Upss. Paginya, di hari Sabtu, Kami sepakat mau main. Tapi,belum tahu ke mana. Di rumah Sarah, jadi malas pergi ke mana mana.  Kami baru keluar rumah sore sekitar jam empat. Datang ke Temanggung aja aku udah seneng, apalagi ke tempat wisatanya. Sarah memberiku beberapa pilihan tempat untuk dikunjungi. Aku manut, kemanapun hayok. Terpilihlah Jembatan Sikrikil.

Kenapa dinamakan Jembatan Sikrikil? Aku gak tau hihi. Aku Cuma diberi tahu kalau  jembatan ini diresmikan oleh Presiden Jokowi. Sekilas gak ada yang istimewa dari jembatan ini. Tapi, dari Jembatan Sikrikil kita bisa menikmati sore hari layaknya di daerah pedesaaan. Dengan angin sepoi-sepoi, suara aliran air sungai, lihat petani di ladang, warga yang memancing di sungai, dan burung-burung yang mulai sliweran. Sayang, ada beberapa anak desa yang mengacaukan suasana itu. Mereka mendekati kami dan menanyakan sesuatu dengan tidak sopan. Ditambah lagi dengan suara motor bising yang membuat kami ingin segera pergi dari jembatan itu. Alhasil kami ke destinasi selanjutnya.

  1. Candi Pringapus

IMG_20180210_161623

Setelah pergi dari Jembatan Sikrikil, kami mengunjungi Candi Pringapus. Candi Pringapus mungkin memang tidak diperuntukan sebagai tempat wisata. Candi Pringapus terdiri dari satu candi, dipagar dengan bebatuan, dan pengunjung dilarang masuk. Jadi, cukup tau saja candi itu seperti apa. Sebenarnya kurang afdol kalau kita mengunjungi suatu tempat tanpa tahu informasi detail dari tempat itu. Tapi, candi itu terlihat sepi dan tidak ada informasi yang bisa ku baca selain, “Candi Pringapus dilindungi oleh Undang-Undang karena merupakan cagar budaya.”

  1. Situs Liyangan

IMG_7469

Ada mitos yang mengatakan kalau candi yang ada di Situs Liyangan digali, satu desa bisa digusur. Terkait benar atau salah mitos tersebut, kalaupun benar aku rasa akan banyak tenaga, waktu, dan uang yang dikeluarkan. Aku gak yakin pemerintah mau mengusahakannya. Banyak hal yang mesti dipikirkan dan dilakukan. Salah satunya rumah warga mau dipindah ke mana? Yakin warga akan pro? Dana untuk menggalinya bagaimana? Kalaupun benar suatu saat candi di Situs Liyangan digali, aku rasa akan banyak pengunjung dari dalam maupun luar negeri yang berkunjung. Karena menurut mitos juga, candi ini lebih besar daripada candi Borobudur. Kita lihat saja nanti.

  1. Kuliner Jenang Murah

IMG_20180210_174523

Sebelum magrib, Sarah mangajak ke warung kecil dekat masjid untuk beli jenang. Aku lebih suka menyebut ini sebagai kolak. Rasanya mirip banget dengan kolak dengan rasa dominan manis dari pisang. Mutiara menambah cita rasa karena kekenyalannya. Pas makan kolak ini jadi ingat suasana Ramadhan, pas mau buka puasa. Ditambah lagi, banyak anak-anak pesantren yang mengantri beli. Kolak ini murah banget cuma Rp 2.000,- enak, dan porsinya banyak. Gak rela rasanya kalau jajanan seperti ini suatu saat punah.

  1. Posong dengan keindahan Sindoro dan Sumbing

IMG_7527

“Besok bangun pagi dew, setengah empat. Kita ke posong lihat sunrise.” Kami pasang alarm jam setengah empat pas. Aku dan Sarah bangun. Tapi, sumpah ngantuk gak bisa ketahan dan hawa dingin itu bikin ingin tidur aja. “Udah lah gapapa, gak ke posong. Enak banget nih tidur,” kataku dalam hati. Tapi, jam setengah 5, Sarah ngajak  aku siap-siap pergi ke Posong. Perjalanan ke Posong lumayan lama, sejam lebih. Kami sempat kebingungan mencari gang untuk masuk ke Posong karena gelap. Akhirnya nemu.

Sebelum masuk Posong, kita pasti ditarik uang retribusi Rp 10.000,- per orang dan parkir Rp. 2.000,- (untuk sepeda motor). Gak mahal dibanding pemandangan yang akan kita lihat nanti. Wah gak salah, aku bangun pagi-pagi buta dan menembus angin dingin, cyaaah. Sumpah, pagi itu indah banget di posong. Banyangkan kita bisa di atas awan tanpa mendaki gunung. Kita bisa lihat sunrise yang indahnya Masha Allah. Kita bisa lihat tuh dua gunung, Sumbing dan Sindoro kek deket banget, gede banget. Itu pertanian warga jadi bikin ngiler. Jadi pengen bertani, seger-seger gitu tanemannya. Pokoknya kalau ke Temanggung. Wajib hukumnya kalian datang ke Posong pagi-pagi.

  1. Bubur Pasar Ngadirejo

IMG_20180211_072746.jpg

Bahagia banget kalau deket kos ku ada yang jual bubur kayak gitu. Tiap pagi pasti aku beli. Rasa buburnya kerasa rempah-rempah banget.  Walaupun tanpa lauk, rasanya udah enak dan pengen nambah. Ditambah harga buburnya murah cuma Rp 3.000,- Dibanding bubur ayam, aku lebih suka bubur sayur itu. Kirain rasa sayur bihunnya bakalan hambar ternyata maknyus. Wah pantes aja banyak yang antri.

Aku nulis ini bukan karena ingin pamer. Bukan, sama sekali tidak. Aku cuma ingin berlatih menulis. Sayang, banget kalau udah kuliah di komunikasi kita gak bisa nulis apalagi peminatanku jurnalisme. Kata dosenku “menulislah apa yang ada dipikiran kalian.” Aku mulai menulis pas ada event #31harimenulis. Aku menulis 31 hari non stop. Tujuan event itu untuk terlaltih menulis. Karena saya suka berpergian, suka jalan-jalan, suka di alam. Kenapa enggak saya menulis tentang alam. Awalnya saya menulis untuk diri saya sendiri. Membacanya kembali kelak. “Oh iya aku pernah ke sini, wah iya ada cerita kaya gini.” Foto memang menggambarkan berjuta cerita. Tapi, tulisan membantu kita mengingat cerita.Semoga tulisan ini gak bermanfaat buat ku saja, tapi juga kalian pembaca.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: