Tentang Desember

Tiba-tiba teringat desember-desember tahun lalu. Di bulan ini, seperti semua masalah bermuara. Tidak ada cara lain, selain menghadapinya.

Desember 2014, momen dimana ada persidangan kecil dengan teman-teman kelas 3 SMA. Masalah kami cukup rumit. Kami sekelas tapi tak pernah menyatu. Kami berkubu-kubu. Sampai suatu ketika kubu kami dan kubu seberang saling jatuh cinta. Sayang, cinta kandas karena kubu sana ada main cinta dengan sesama kubu. Persidangan dimulai dan diakhiri dengan pikiran berat. Pikiran yang selama ini membayang-bayangi akhirnya menemui titik temu. Kita antar kubu sepakat pisah.

Desember 2015, kamu tahu salah satu hal yang paling menyedihkan di dunia ini? Orang yang selama ini menutupi kebohongan dengan rapih akhirnya terbongkar juga. Ayah selalu berbohong, kalau keluarga kita baik-baik saja. Ternyata tidak. Lubang ada di mana-mana. Saya menangis sejadi-jadinya. Kakak yang berusaha menutup lubang-lubang itu. Entah bagaimana caranya.

Desember 2016, (bagi saya) awal dari semua permasalahan organisasi. Semuanya hilang.

Desember 2017, saya berharap akan menemui titik terang. Saya lelah terombang-abing di badai. Badai terlalu lama datang. Tak ada cahaya, padahal kami Janitra. Ah, kambing. Saya ingin pergi saja. Tapi nanti saya jadi pengecut sama kayak mereka yang memilih tidak bertanggung jawab. Tapi saya tidak mau permasalahan ini berkepanjangan. Tapi saya MALAS untuk memulai semuanya. kenapa? mungkin karena ketidaknyamanan ini memang sangat tidak nyaman. tapi mau sampai kapan. Nanti saya pikirkan.

#berdialektika

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s