Diposkan pada Alam Bebas

Edelweis, (jika) Diibaratkan Bungkus Permen

Libur panjang memang asyik untuk mendaki gunung. Selain pemandangannya indah,  banyak hal menarik yang tidak ditemukan di dataran rendah. Salah satunya bunga edelweis.

Sekitar satu minggu yang lalu, seorang teman mengunggah foto tangannya menggengam edelweis yang sudah dipetik. Jangan ingatkan dia didepan orang banyak, karena itu akan melemahkannya. Ingatkan dia secara personal, maka ia akan berusaha memperbaikinya.

Q: Jangan dipetik (bunga edelweis) teman.

A: Dikit tok dew, yang sudah kering.

Percakapan itu ibaratnya begini

Q: Jangan buang (plastik) sembarangan.

A: Kecil kok ini, cuma bungkus permen.

Satu bungkus permen tidak terlalu mengotori jika dibuang sembarangan di tempat wisata. Kalau ada satu pengunjung yang berfikiran demikian, tidak jadi soal. Toh tempat wisata tiap hari juga dibersihkan oleh petugas. Kalau seribu pengunjung yang berfikiran demikian, bagaimana? tentu tempat wisata itu terasa tidak nyaman.

Sama seperti bunga edelweis yang dipetik, memang kecil dan beberapa bagian sudah kering. Kalau ada pendaki yang berfikiran demikian, INI TETAP JADI SOAL. Bunga edelweis butuh waktu untuk tumbuh, tidak setiap hari ia tumbuh layaknya petugas kebersihan yang selalu membersikan tempat wisata setiap hari. Apalagi seribu pendaki, bisa punah edelweis seperti yang terjadi di gunung Semeru.

Beberapa mitos tentang bunga abadi ini memang masih dipercayai banyak orang. Teman, itu mitos bukan fakta. Fakta edelweis adalah bunga yang dilindungi karena keberadaanya yang sudah mulai langka dan manfaat ekologis lainya.

“Tapi, bunga ini dapat menyembuhkan berbagai penyakit.” Kalau itu alasan memetik bunga edelweis, ada banyak cara untuk menyembuhkan penyakit selain menggunakan bunga edelweis ini. Beli saja obat di warung atau apotek, datang ke dokter, atau minum jamu tradisional.

Untuk alasan mengapa edelweis banyak dipetik, padahal memetik edelweis itu haram. Selengkapnya di Kenapa Edelweis Banyak Dipetik Orang dan Mengapa Itu Dilarang?

Mari jaga lingkungan, walau hanya dengan saling mengingatkan.

Iklan

Penulis:

Mahasiswa Ilmu Komunikasi UGM 2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s