Diposkan pada #31harimenulis

Cerpen: Lupa Cuci Tangan #part1

Namanya Shabrina Seradiana biasa dipanggil Sera. Umurnya baru 5 tahun tetapi Ia sudah ditinggal mati oleh ibunya sejak lama tepatnya setelah melahirkannya. Kini ia tinggal bersama ayah dan seorang bibi yang menjaganya. Ayahnya belum menikah lagi mengingat kesibukannya yang luar biasa. Sera gadis kecil berkulit putih, berambut pendek dan berpipi tembem ini sangat lincah berlarian kesana-kemari. Sang bibi suka kewalahan menjaga anak majikannya itu.

“Non Sera hati-hati.” Kata bibi Syifa.

“Ayok bibi tangkap Sera kalau bisa wlee.” Balas Sera dengan juluran lidahnya.

Hampir setiap sore, Sera senang sekali berlari-lari di halaman belakang rumahnya. Ada sebuah “Home Industry” yang dikelola ayahnya di sana. Sera suka karena ada banyak pekerja yang menggunakan masker layaknya pahlawan bertopeng yang ada di film kartun kesukaannya. Namun, setiap kali Sera datang ke tempat itu, dia selalu merasa mual karena bau busuk. Sera tidak tahu bau busuk itu berasal dari apa. Mungkin alasan inilah yang membuat bibi Syifa selalu melarang Sera ke tempat itu. Dasar Seranya yang bandel tetap saja dia lakukan kebiasaannya itu. Al hasil setiap kali Sera sudah merasa mual barulah sang bibi mengantarnya ke dalam rumah. Begitu juga dengan sore ini.

Malam hari ketika ayah Sera pulang ke rumah.

“Loh Sera kenapa pucat sekali apa dia sakit lagi bi?” tanya ayah Sera pada bibi Syifa

“Iya Tuan, Non Sera tadi sore mual-mual setelah bermain di halaman belakang. Saya sudah memberinya obat. Non Sera tertidur setelah meminumnya. Apa tak sebaiknya Non Sera dibawa ke rumah sakit saja Tuan?” jawab bibi Syifa cemas.

“Segera bibi persiapkan perlengkapan Sera, kita bawa ke rumah sakit sekarang dan jangan sampai Sera terbangun.”

Setelah mempersiapkan segalanya, bibi Syifa lalu menggendong Sera ke dalam mobil. Ayahnya membawa perlengkapan Sera. Setelah diperiksa, dokter menyarankan untuk menjauhkan Sera dari apapun yang berbau menyengat. Paru-paru dan perut Sera sudah mulai terganggu karena sering menghirup bau busuk.

Ayahnya khawatir dengan keadaan Sera sekarang, berpikir bagaimana agar kondisi Sera membaik. Untuk menutup home industry tersebut tidak mungkin. Salah satu caranya adalah menitipkan Sera pada neneknya di Desa Jati Agung. Nenek itu bukan ibu kandung ayah Sera tetapi sang mertua. Meski berat ayah Sera tetap harus melakukan hal ini demi Sera. Dengan pertimbangan matang, keesokan harinya mereka ke tempat nenek yang cukup jauh dari kota Solo ini. Sebelumnya, bibi Syifa sudah diberhentikan terlebih dahulu oleh ayah Sera.

Iklan
Diposkan pada #31harimenulis

Ada Cerita di Kereta

Entah kereta menjadi pemanis perjalanan. Ada saja cerita bila menggunakan kereta. Kereta Prameks, kereta paling diminati mahasiswa. Harganya cuma Rp 8000,- mulai dari Kutoarjo sampai Yogyakarta. Pertama kali naik kereta pada 8 Juni 2015 ke Yogyakarta untuk daftar ulang kuliah. Sekitar setengah 5 pagi berangkat dari rumah ke Stasiun Kutoarjo. I can remember the day. I can remember the moment. Bahagia berangkat bareng teman yang tujuannya tak hanya Yogyakarta, tetapi juga Solo. Saat itu, prameks dipenuhi penumpang yang sebagian besar mahasiswa. Tak dapat tempat duduk, akhirnya kami memilih duduk di tempat yang lumayan lebar di bawah.

Cerita di kereta selanjutnya adalah nekat turun di Kebumen padahal pesen tiket cuma sampai Kutoarjo. Prameks kereta murah yang tiketnya cepet habis. Alhasil memilih kereta Gajah Wong yang bisa sampai Kebumen. Mahal, Rp 60.000,- sedangkan kalau sampai Kutoarjo (dulu) Rp 20.000,-. Atas saran kakakku yang gak mau jemput jauh-jauh, akhirnya saya nekat turun di Kebumen. Pura-pura tidur pas di stasiun Kutoarjo biar gak turun. Hahaha jangan ditiru gak baik. Serius, hati jadi was-was kalau-kalau keretanya gak turun di Kebumen trus bablas sampai Jakarta kan mampus.

Kedua kalinya nekat turun di Kebumen. Masih berhasil wkwk. Pulang bareng temen dari Komunikasi yang pengin main ke Kebumen. Entah karena berdua jadi tak terlalu takut. Kali ini gak pura-pura tidur. “Ya nanti kalau disuruh turun kita turun, kalau engga ya bablas aja ya.” Kataku. Ketiga kalinya nekat mau turun di Kebumen tapi gagal haha. Kenapa? Karena keretanya ramai jadi ada penumpang yang udah nunggu di Kutoarjo. Alhasil malu sih “disuruh” turun secara tidak langsung wkwk.

Terakhir naik kereta kemarin (27/4/17), Naik kereta Gadjah Wong harganya naik jadi Rp. 25.000,- Kali ini gak nekat kok hehe. Turunnya tetep di Kutoarjo. Gak mau merugikan PT KAI #halah. Maaf cerita ini bukan untuk dicontoh tapi ya itu wkwk. Kemarin pas di kereta ketemu bapak-bapak yang anaknya sedang daftar-daftar di Universitas. Bapaknya kepenginannya Cuma satu, anaknya bisa kuliah di PTN. Katanya kalau di Swasta mahal. “Pak di PTN sekarang juga mahal pak, yang katanya uang kuliah tunggal tapi beranak-pianak” kataku dalam hati.

Diposkan pada #31harimenulis

Mantra Rahasia

Kata-kata “AKU ADALAH . . .” merupakan kata-kata yang kuat, berhati-hatilah dengan apa yang kamu tuliskan setelah kata-kata itu. Hal yang kamu katakana akan memantul dan menuntutmu (A.L. Kitselman)

Aku akan mendengarkan kata hatiku dengan lebih sungguh-sungguh

Aku akan lebih banyak menikmati, lebih sedikit khawatir

Aku akan tahu bahwa sekolah akan segera selesai dan pekerjaan akan tidak apa-apa

Aku akan menghargai vitalitas dan kulit yang kencang

Aku akan lebih banyak bermain, lebih sedikit mengeluh

Aku akan tahu bahwa kecantikanku tercermin dalam kecintaanku pada hidup

Akuakan tahu betapa orang tuaku mencintaiku dan aku akan percaya bahwa mereka mengasuhku sebaik mungkin

Aku akan menikmati perasaan “jatuh cinta” dan tak terlalu mengkhawatirkan apakah hubungan ini akan berlangsung baik

Aku akan tahu bahwa hubungan itu mungkin tidak berlangsung baik, tapi aka nada orang lain yang lebih baik

Aku tak akan takut bertingkah seperti anak kecil

Aku akan lebih berani

Aku akan mencari kualitas yang baik dalam diri setiap orang dan menikmati persahabatan dengan mereka

Aku tak akan bergaul dengan orang-orang yang hanya karena mereka “populer”

Aku akan menikmati tubuhku apa adanya

Aku akan menjadi sahabat yang baik

Aku akan lebih menghargai dan bersyukur

(Kimberly Kirberger)

Diposkan pada #31harimenulis

Manusia terbang + Mantra = Pesawat

Jika kamu mampu membayangkan dan meyakininya,kamu pasti akan dapat meraihnya (Napoleon Hill)

 

Ternyata mantra itu ada. Mantra tidak hanya di dunia sihir. Di dunia nyata mantra itu benar-benar ada. Pernah dengar kalau seorang ibu yang mengatakan anaknya nakal setiap hari, maka di kemudia hari anak itu benar-benar nakal? Pernah dengar kisah sukses orang, meskipun tiap hari banyak orang yang mengejeknya bahwa apa yang diimpikan itu tidak mungkin terjadi, tapi berkat mantra yang dia sebutkan dalam hatinya. Dia sukses. Mantra itu bukan rahasia. Semua orang tau. Mantra setiap orang itu berbeda tapi pada dasarnya sama.

Coba telisik kembali, pernahkan kamu merasa tujuanmu itu terasa sangat jauh? Sejauh bumi dan langit. Tahukah, bahwa pesawat terbang tercipta dari orang yang membayangkan bisa terbang. Mana mungkin manusia bisa terbang, dia gak punya sayap, Jangan ngaco! let’s see. Manusia bisa terbang, bahkan terbang bersama ratusan orang. Dengan yang sangat jauh. Iya jarak bumi dan langit memang jauh, tapi lihat sekarang jaraknya jauh lebih dekat dengan pesawat. Bukankah sekarang sudah ada pesawat luar angkasa? jarang itu semakin dekat dan semakin dekat.

Apa yang akan terjadi jika tidak ada yang membayangkan manusia bisa terbang? Percayalah kita memerlukan waktu bertahun-tahun untuk ke negeri orang di ujung dunia sana. Kita tidak akan tau perbedaan suku, ras, dan lainnya yang indah. Kita tidak bisa tau seperti apa bentuk bumi yang kita tempati ini. Membayangkan saja tidak cukup! perlu kita yakini bahwa hal itu akan tercapai. Dengan cara apa? yakinilah dalam hati, perkataan dan perbuatan. Tanpa itu semua, mustahil hal yang kita inginkan akan terjadi.

Mantra itu bukan hanya diucapkan tapi diaplikasikan. Ucapkan mantra “saya percaya saya bisa.” Lakukan hal apapun yang membuat itu tercapai. Tidak penting orang lain percaya kita bisa atau tidak, yang penting kita percaya kita bisa.

 

Diposkan pada #31harimenulis

Dia yang Mengajariku Selingkuh

Dia mengajariku selingkuh dari dunia yang sementara ke akhirat yang kekal. Dia yang mengingatkanku akan tiga pertanyaan dasar dalam hidup.

Dari mana kita berasal?

Apa yang akan kita lakukan di dunia?

Ke mana kita kembali setelah selesai dunia ini?

Tiga pertanyaan hidup yang menjadi dasar menjalani hidup. Atas pengetahuan yang saya tahu, jawaban atas pertanyaan itu adalah kita berasal dari Tuhan, di dunia ini untuk beribadah dan kita akan kembali kepada Tuhan. Kita sadar bahwa hidup di dunia ini hanya numpang minum. Bayangkan betapa cepat waktu di dunia ini. Untuk apa mengeluh menjalani hidup? lebih baik mengkhawatirkan dosa yang telah kita perbuat, memohon ampun dan tidak menlakukannya lagi.

Kesibukan sekolah, kuliah atau kerja membuat kita lupa akan kehidupan akhirat. Berangkat sunrise pulang sunset. Pulang ke rumah sudah capek. Hubungan antar manusianya baik, hubungan dengan Tuhan?

X: Nabi Muhammad saja bisa beribadah sehari 24 jam masa kamu gak bisa?

Y: Lah, Muhammad kan seorang nabi ya gak bisa kita tiru lah

X: Trus kalau gak niru Nabi Muhammad, mau niru siapa? artis?

Y: lah trus bagaimana caranya untuk beribadah 24 jam full? pas lagi tidur bagaimana?

Ada cara untuk kita beribadah 24 jam sehari. Dengan cara apa? ketika kamu melakukan sesuatu niatkan itu untuk beribadah kepada Tuhan. Mau sekolah, kuliah atau kerja niatkan untuk mencari ilmu dan mencari rezeki. Mau ke toilet pun berdoa. Mau tidur juga berdoa untuk mengistirahatkan tubuh. Insha Allah itu bernialai ibadah. Karena setiap perilaku yang kita tergantung pada niat kita.

Dia yang mengajariku adalah sahabatku.

 

Diposkan pada #31harimenulis

Tugas di Hadapan Kita Tak Pernah Sebesar Kekuatan di Belakang Kita

Sekarang (April 2017) saya sudah menjalani menjadi seorang mahasiswi Ilmu Komunikasi di UGM semester 4. Semester 4 dan 5 itu puncak-puncaknya tugas kuliah. Kata Mas dan Mba Dosen Komunikasi. Awal kuliah masih enak, tugas masih dikit. Dosen ngasih tugas lama sebelum deadline. Sekarang? hmm udah kayak gunung. Apalagi peminatan Jurnalisme, mesti liputan ke sana ke mari. Keliling Jogja dari ujung ke ujung. Panas dan hujan kadang jadi halangan. Namun, halangan terbesar adalah susahnya menemui narasumber.

It’s almost done! Semester 4 sudah mau berakhir guys. Tapi, masih banyak tugas. Banyak banget temenku yang spaneng. Rela gak masuk kelas demi liputan. Rela habis duit banyak demi liputan. Rela panas-panasan ataupun hujan-hujanan. Hadiahnya sederhana tapi bikin lega yaitu hasil liputan kami diterbitkan di situs wargajogja.net (silahkan dibuka) hehe.

Saya selalu berkata “time zone.” Setiap orang punya time zonenya masing-masing. Bukankah Tuhan menjawab doa dengan tiga cara? Ya, maka doamu terkabul. Tidak, maka ada yang lebih baik. Tunggu, akan ada waktu yang tepat untuk mengabulkan permintaanmu. Jangan spaneng kalau tugasmu belum selesai. Jangan spaneng kalau kamu belum wisuda. Jangan spaneng kalau belum nemu pasangan. Relax, everything has time zone. Jalani, nikmati dan syukuri.

Ketika kamu diberi tugas berarti kamu mampu mengerjakannya. Kalau dirasa tidak bisa menyelesaikannya, bukan berarti memang kamu tidak bisa. Tapi, kamu belum mencobanya. Cobalah, Tuhan tidak menuntumu untuk selalu berhasil mengerjakan Tugas. Tuhan hanya menyuruhmu untuk mencoba. Hasilnya serahkan pada Tuhan. Karena tidak ada hasil tanpa usaha dan usaha tidak akan mengkhianati hasil. Ingat, kamu lebih dari apa yang kamu bayangkan. Selamat berkarya jiwa-jiwa muda.

Diposkan pada #31harimenulis

Tentang Pacaran

“Kita tak pernah kalah karena mencintai seseorang, kita kalah karena tidak berterus terang” (Barbara DeAngelis)

Mencintai itu fitrah. Menyukai itu pasti. Mengungkapkan itu wajar. Bagi laki-laki mengungkapkan perasaan itu wajar. Bagi perempuan? entahlah banyak dinamika di sana. Ini bukan tentang hukum perempuan mengungkapkan perasaan. Ini tentang apa yang kamu rasakan.

Usia 17-20 tahun itu usia yang penuh gejolak. Wajar kalau perasaanmu kadang baik kadang buruk. Wajar. Wajar juga kalau kamu mulai menyukai seseorang. Bila itu datang di waktu yang tidak tepat, jangan hilangkan rasa itu. Biarkan ia tetap mengalir. Bisa jadi itu anugrah, bisa jadi musibah. Kita hanya perlu menyederhanakan rasa itu. Kalau nanti orang itu pasangan hidupmu bersyukurlah, kalaupun bukan, patah hatimu takkan patah seluruhnya.

Bener kata bang Barbara De Angelis (quote di atas). Menurut saya berterus terang di sini bukan hanya tentang mengungkapkan lewat lisan. Namun, juga lewat perbuatan. Kalau kamu menyukai seseorang, jaga dia bukan rusak dia. Kalau kamu menyukai seseorang, komunikasikan pada dia bukan orang lain. Jangan jadi pecundang hanya mampu memberika kode yang mungkin tidak dimengerti. Kalau belum siap, jangan pernah putuskan untuk menjalin “relationship”.

Selagi dewasa muda (17-20), manfaatkan itu. Ada banyak hal yang bisa kamu lalukan untuk berterus terang padanya. Dengan cara apa? banyak. Belajarlah dengan rajin dan tekun karena saya yakin, seseorang akan memilih pasangan yang pintar daripada bodo. Berlakulah baik, 99% tipe pasangan yang dicari adalah baik. Right? may be. Berdoalah pada pemberi hati, yang membolak-balikkan hati seseorang. “Ya Tuhan balikan hatinya untuk mencintaiku.” Bukan, “Ya Tuhan semoga hatinya untukku.”

Diposkan pada #31harimenulis

Filosofi Pohon

Teringat cerita seseorang, bahwa dalam hidup hanya ada dua tipe pohon. Pohon yang tinggi menjulang dan pohon yang lebar meneduhkan.
.
Ibarat hidup, pohon yang tinggi menjulang adalah orang yang selalu mengejar cita-cita nya setinggi langit. Pohon ini lebih sering di pandang orang. Tapi, ia tak memiliki tempat teduh yang luas.
.
Sedangkan, pohon yang lebar meneduhkan, ia tak terlalu memaksakan setinggi apa dia mencapai kehidupan. Ia hanya memikirkan sebisa apa dia bisa meneduhkan bagi orang, sebisa apa dia bisa bermanfaat bagi yang lain.

Seseorang itu adalah kakak tingkat dari Fakultas Kehutanan. Saya pernah ketemu dua kali. Pertama, malam hari di sekre mereka ketika mengirimkan undangan pembicara untuk persiapan penelitian. Kedua, siang hari ketika dia datang ke tempat kami. Kami ngobrol masalah penelitian di Semeru tentang ekowisata. Kebetulan dia pernah melakukan ekspedisi di BTNBTS (Balai Taman Nasional Bromo Tengger Semeru). Sharing lah kita tentang berbagai hal.

Satu hal yang melekat di pikiranku tentang hanya ada dua tipe pohon di dunia ini. Loh bukannya tipe pohon tuh banyak banget ya? iya. Maksudnya di sini adalah tipe pohon yang sudah saya sebutkan di atas. Pilihan orang memang berbeda. Setiap pilihan yang dipilih ada alasan dan konsekuensinya. Tinggal bagaimana kita mengelola semua. Kalau ditanya, pasti semua orang menginginkan pohon yang tinggi dan rindang. Sama saya juga.

Masing-masing kita pasti sedang membangun tangga untuk mencapai langit. Kita ingin semuanya terlihat, besar dan terpampang. Semua orang memikirkan hal itu. Saya yakin. Tapi, apa kita sadar bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Percuma karier cemerlang, tapi keluarga tercampakkan. Tetangga gak ada yang kenal. Miris. Semua orang ingin jauh dan tinggi, tapi yang didekatnya terabaikan.

Jadilah pohon yang rindang dan menyejukan. Tak perlu menjadi pohon yang terlalu tinggi KALAU tidak bisa bermanfaat untuk orang lain. Menjadi penting itu baik tapi lebih penting jadi orang baik.

#31harimenulis

Diposkan pada #31harimenulis

Sayapku Pernah Patah

Kamu dilahirkan dengan sayap. Mengapa kamu lebih suka merangkak menjalani hidup? -Rumi
.
Sayapku patah (:
.
Burung yang sayapnya patah hanya perlu disembuhkan. Tapi, kala pulih burung itu dapat terbang lebih tinggi daripada burung yang lain -Jim Hullihan

Sayap saya pernah patah. Saya pernah menanyakan pada Tuhan. Ya Tuhan mengapa sayap saya yang harus patah? Mengapa di saat seperti ini ya Tuhan. Tuhan tidak menjawab langsung. Tuhan menjawabnya lewat tulisan yang saya baca. Kurang lebih tulisannya seperti ini

Seseorang sedang mengalami penyakit kanker. Tubuhnya kian hari kian renta. Namun, ia tetap menjalani hidup seperti biasa. Ia tetap tersenyum. Suatu hari tubuhnya sudah tak kuat menahan beban. Ia terbaring di rumah sakit. Ia tetap tersenyum. Seseorang bertanya padanya, mengapa kau tetap tersenyum menjalani hidupmu yang seperti ini?

Dia menjawab, mengapa seseorang selalu menanyakan alasan ketika Tuhan memberikan ‘sesuatu’ yang dianggap buruk padanya? mengapa seseorang tersebut tidak pernah bertanya alasan ketika Tuhan memberikan ‘sesuatu’ yang dianggapnya baik? Ketika kita melihat orang lain pincang, kita tidak pernah bertanya pada Tuhan. ya Tuhan mengapa bukan saya saja yang pincang? Ketika kita melihat orang lain tertimpa musibah, kita tidak pernah bertanya mengapa bukan kita yang tertimpa musibah?

Ketika kita diberikan mobil, kita tak bertanya mengapa saya yang diberi mobil? Ketika kita diberikan anak, kita tak bertanya mengapa saya yang diberi anak? Dan semua anugrah-anugrah lain yang Tuhan berikan.

Apakah adil ketika kita yang dari lahir diberikan kesempurnaan fisik selama ini masih ragu dengan takdir Tuhan? Bukankah Tuhan memberikan sakit untuk menghapus semua dosa-dosa kita? percayalah Tuhan memberikan semua yang terbaik kepada kita selama kita mau bersyukur dan bersayabar.

Sayap kita akan patah, itu pasti. Setiap manusia akan diberi cobaan. Seberat apapun cobaan kita, jangan pernah mengeluh. Tuhan hanya menyuruh kita untuk mencoba bukan berhasil. Hasilnya serahkan pada Tuhan. Satu hal ketika sayap kita patah, jangan pernah menyerah. Namun, berhentilah sejenak. Renungkan kembali apa yang sudah terjadi. Sembuhkan sayapmu itu, bukan malah mematahkannya kembali.

#31harimenulis

Diposkan pada #31harimenulis

PPSMB Palapa 2016 (Hari ke 1,2,5 dan 6)

PPSMB Palapa merupakan gerbang bagi mahasiswa baru untuk melangkah di dunia perkuliahan. Gerbang ini terbuka lebar untuk semua orang mau, tahu, dan mampu menjadi Mahasiswa UGM. Penjelasan panjang ketika kita membicarakan siapa orang yang mau, tahu, dan mampu. Gerbang ini dibuka secara perlahan. Seperti layaknya orang-orang yang berkeliaran di pasar di pagi hari, begitu jugalah kedatangan mahasiswa baru di UGM pagi itu. Wajah-wajah penuh semangat, gairah, dan kebahagiaan.

Selalu senyum, itu ungkapan yang sering saya lontarkan ke partner saya. Pagi-pagi buta, kami seluruh panitian PPSMB Palapa 2016 berkumpul di MAsjid Kampus UGM. Briefieng itu sangat penting. Idealisme mahasiswa berpadu semua di sana. Mempersiapkan segalanya hingga tak ada satu pun tersisa. Termasuk memohon doa restu sang Pencipta. Doa restu yang akan mengabulkan idealisme para panitia. Hari pertama, kedua, kelima, dan keenam selalu dilakukan briefing pagi di Masjid Kampus.

Bertemu dengan mahasiswa baru adalah hal yang kami tunggu. Menyambutnya dengan bahagia adalah tugas dan tanggungjawab yang harus kami emban. Semua terasa ringan dan sederhana karena sudah disiapkan secara matang. Tidak akan saya ceritakan secara detail kegiatan selama empat hari di universitas. Biarlah itu menjadi sebuah kenangan dan pengharapan kembali.

Ada cerita, tawa, dan bahagia. Momen paling membahagiakan tentu ketika penutupan PPSMB Palapa. Kerja keras kami selama berbulan-bulan berhasil. Melakukan formasi lebih dari 9000 mahasiswa baru di lapangan Grha Sabha Pramana. Tidak tanggung-tanggung lima formasi sekaligus. Mulai dari bendera merah putih, kepulauan Indonesia, Garuda, logo Asean dan yang paling ditunggu-tunggu adalah logo PBB.

Apa jadinya kalau formasi ini tidak jadi. Barang satu orang yang salah membuka kertas asturonya. Barang satu orang yang ketuker tempat. Barang satu orang yang tidak siap membuka asturonya. Semuanya sirna seketika ketika pembawa acara memberikan aba-aba pertama. SEPERTI SIHIR, FORMASI PERTAMA JADI. Semua panitia pasti meneteskan air mata. Tanda bahwa usaha tidak ada yang sia-sia.

PPSMB Palapa 2016 merupakan kegiatan ospek yang pertama kali dilakukan di Indonesia di tahun itu. Hal ini juga berarti menjadi awal dan pandangan awal. Kami tak mau mengecewakan. Kami memberikan semua hal yang terbaik. Merelakan semua pengorbanan. Rasa syukur kami kepada Tuhan. Terima kasih kami kepada panitia yang sudah bekerja keras. Besar harapan kami untuk PPSMB Palapa 2017 menjadi yang terdepan dan terbaik. Semoga.

#31harimenulis