Diposkan pada Tanpa kategori

But, he (Dad) lies

Dia bohong tentang mempunyai uang, dia bohong jika dia tidak capek, dia bohong kalau dia tidak lapar, dia bohong kalau kita punya segalanya, dia bohong tentang kebahagiaannya, dia bohong karena saya.

Hey, manusia yang tak kenal lelah. Hey, manusia yang selalu bekerja keras. hey, manusia yang selalu ada saat kita butuh dan hey manusia yang telah berbohong. Hey my Dad. You are my everything for me, for our family. Thanks for your lie.

Sabtu, 27 Februari 2016 genap sudah usia beliau yaitu 57 tahun. Usia yang sudah tidak muda. Usia yang seharusnya bisa menikmati hasil kerja kerasnya di masa muda. Usia yang seharusnya sudah merasakan indahnya hidup setelah berusaha keras di waktu muda. Maafkan buah hatimu yang jauh dari kata sempurna untuk membahagiakanmu. Masih saja merepotkanmu. Masih saja membuatmu gelisah. Masih saja tak menghiraukan pesanmu. Maaf.

Bagaimana rasanya menjadi Ayah selama lebih dari 30 tahun? membesarkan, mendidik dan membiayai seorang istri dan lima orang anak. Pasti tak mudah kan?. Tapi semua terlewati dengan baik oleh mu. Sangat baik. Tak peduli cerita orang. Kau tetap yang terbaik. Satu cerita yang tetap teringat di pikiranku. Tentang sebuah sepeda yang ku kendarai ke Kampus setiap hari. Bodoh rasanya jadi aku. Merengek hanya untuk di belikan sepeda padahal sudah ada sepeda yang lama. Beberapa hari kemudian, tibalah sepeda itu di depan rumah kita. betapa bahagianya aku dan kamu. Sungguh bahagia yang sempurna di hatiku. Namun … tidak untuk hatimu (lihat kutipan pertama). Anyway, Terima kasih untuk kebohonganmu yang bermaksud baik yaitu membuat anaknya tersenyum bahagia. Kebohonganmu bukan suatu dosa tetapi sebuah pahala yang amat besar. Thanks we love you!

Iklan