Diposkan pada Opini

Djelajah Kopi, Djelajah Pikiran Berani kumpul bareng temen tanpa akses internet?

Djelajah Kopi,

Kamis, 9 November 2017

21.00-02.00 WIB

 

Ini kedua kalinya saya ke Djelajah kopi. Awalnya untuk kebutuhan organisasi, eh sekarang untuk kebutuhan rohani. Bukan, bukan tentang kafenya, tapi perbincangannya.

Siapa sih yang bisa tahan berjam-jam, tanpa pegang hape?

Siapa sih yang bisa tahan berjam-jam, tanpa buka aplikasi media sosial?

Kalau kamu tahan berapa lama? Satu? Dua? atau tiga jam?

Di malam itu, kami bermain kata. Kami berlima, satu saya; dua, tiga, empat teman saya, dan lima teman baru. Permainan pertama, kami menulis masing-masing tiga kata secara bergantian pada secarik kertas.

Ternyata tidak mudah menulis tiga kata. Cuma tiga kata padahal. Tapi, perlu pemahaman agar tiga kata sebelumnya nyambung dengan tiga kata yang akan ditulis. Putaran pertama aman, putaran kedua ambyar.

Ini nih salah satu kalimat yang kami buat. “Aku jadi mikir detak dalam detik setiap aku berdialek diam tanpa sebab, semua terus bergerak.”

Permainan kedua, sebut kata dari tiga atau dua huruf terakhir yang disebut teman sebelah. Ah gimana penjelasannya? Gini, orang pertama menyebut kata “alam,” orang kedua menyebut “lampu.”  Jadi orang kedua bebas mau mulai kata dari “lam” atau “am.” Bisa saja dia sebut kata “ampuh.” Begitu seterusnya.

Ternyata permainan ini juga tidak mudah. Beberapa teman susah mencari kata yang tepat dan nyambung. Apalagi malam semakin larut, semakin ambyar dah. Ini nih suku kata yang sering membuat pikiran bekerja lebih keras “ah,” “au,” dan “ei.”

Satu hal lucu, kapan lagi coba, 5 jari telunjuk bertemu di satu bullpen yang berdiri. Cuma mau menentukan siapa yang bakal jawab jujur pertanyaan. Orang-orang bakal mikir, “ngapain coba?” tapi, bagi saya, peristiwa itu sederhana dan buat gelak tawa. Yakin deh suatu saat, gak ada lagi yang ngelakuinnya.

Apa sih maknanya?

Ternyata asik ya kalau berkumpul tanpa diganggu dunia maya, tanpa buka media sosial, tanpa akses internet sekalipun.

Kita sering banget minta bantuan google kalau kita gak tahu suatu hal. Coba deh pikirkan dulu, jangan langsung nyari. Lama gak mikirnya? Kami “iya” haha. Jangan-jangan otak kita mengalami penurunan kualitas? Hmm bisa jadi.

 

 

 

 

Iklan
Diposkan pada Opini

Kontribusi Terkecil dalam Organisasi adalah Konfirmasi.

Permasalahan jaman sekarang dalam berorganisasi semakin banyak. Pernah gak sih kalian mengeluhkan hal-hal kecil dalam organisasi?. Sama. Semisal organisasi kalian akan mengadakan rapat pada pukul 4 sore. Kalian sudah datang tepat jam 4. Ternyata teman-teman kita datang 30 menit lebih lama dari waktu yang ditentukan. Padahal kalian mesti mengerjakan tugas yang sudah mendekati dateline. Bagaimana rasanya?

Seberapa banyak dari kita yang memiliki grup virtual (grup Line atau WhatsApp) lebih dari 10? pasti banyak. Bahkan teman-teman saya memiliki grup Line lebih dari 100 grup. Sangat tidak efektif. Grup virtual dibuat untuk membantu kita dalam berkomunikasi dengan teman seorganisasi/sekelompok kita. Pernahkan kalian bertanya hal penting di grup tersebut, tapi tidak ada yang respon padahal sudah “read by 20”? Kecewa? tentu.

Bukan permasalahan besar yang merusak sebuah hubungan. Namun, kesalahpahaman kecil yang akan merusak hubungan. Contoh kejadian di atas. Kita telat rapat akan suatu hal? Bisakan KONFIRMASI kalau datang rapat terlambat karena suatu hal yang menghalangi. Kita tidak merespon suatu hal dalam grup. Bisakan KONFIRMASI sesuai apa yang kita tahu. Misal “Guys ada yang tahu dokumentasi acara kemarin bisa minta ke siapa?” bisakan dijawab “sama X” atau “enggak tahu.” Siapa tahu dia sedang mencari dokumentasi untuk LPJ ke kampus. Kasihan kan dia yang bertanya, apalagi menyangkut organisasi.

Ungkapan “kontribusi terkecil dalam organisasi adalah konfirmasi” saya dapatkan dari teman kampus. Ya ungkapan tersebut memang benar adanya, seperti kajadian-kejadian di atas yang sering sekali kita alami. So mulai lah belajar KONFIRMASI.” Kalau kontribusi terkecil saja kita tidak lakukan apa lagi, kontribusi yang besar.

 

Diposkan pada Alam Bebas

Edelweis, (jika) Diibaratkan Bungkus Permen

Libur panjang memang asyik untuk mendaki gunung. Selain pemandangannya indah,  banyak hal menarik yang tidak ditemukan di dataran rendah. Salah satunya bunga edelweis.

Sekitar satu minggu yang lalu, seorang teman mengunggah foto tangannya menggengam edelweis yang sudah dipetik. Jangan ingatkan dia didepan orang banyak, karena itu akan melemahkannya. Ingatkan dia secara personal, maka ia akan berusaha memperbaikinya.

Q: Jangan dipetik (bunga edelweis) teman.

A: Dikit tok dew, yang sudah kering.

Percakapan itu ibaratnya begini

Q: Jangan buang (plastik) sembarangan.

A: Kecil kok ini, cuma bungkus permen.

Satu bungkus permen tidak terlalu mengotori jika dibuang sembarangan di tempat wisata. Kalau ada satu pengunjung yang berfikiran demikian, tidak jadi soal. Toh tempat wisata tiap hari juga dibersihkan oleh petugas. Kalau seribu pengunjung yang berfikiran demikian, bagaimana? tentu tempat wisata itu terasa tidak nyaman.

Sama seperti bunga edelweis yang dipetik, memang kecil dan beberapa bagian sudah kering. Kalau ada pendaki yang berfikiran demikian, INI TETAP JADI SOAL. Bunga edelweis butuh waktu untuk tumbuh, tidak setiap hari ia tumbuh layaknya petugas kebersihan yang selalu membersikan tempat wisata setiap hari. Apalagi seribu pendaki, bisa punah edelweis seperti yang terjadi di gunung Semeru.

Beberapa mitos tentang bunga abadi ini memang masih dipercayai banyak orang. Teman, itu mitos bukan fakta. Fakta edelweis adalah bunga yang dilindungi karena keberadaanya yang sudah mulai langka dan manfaat ekologis lainya.

“Tapi, bunga ini dapat menyembuhkan berbagai penyakit.” Kalau itu alasan memetik bunga edelweis, ada banyak cara untuk menyembuhkan penyakit selain menggunakan bunga edelweis ini. Beli saja obat di warung atau apotek, datang ke dokter, atau minum jamu tradisional.

Untuk alasan mengapa edelweis banyak dipetik, padahal memetik edelweis itu haram. Selengkapnya di Kenapa Edelweis Banyak Dipetik Orang dan Mengapa Itu Dilarang?

Mari jaga lingkungan, walau hanya dengan saling mengingatkan.

Diposkan pada #31harimenulis

Aku Rindu Kamu, Plah!!

Aku rindu menunggu kalian berjam-jam hanya untuk rapat

Aku rindu menulis di catatan rapat itu

Aku rindu dag dig dug hati saat disuruh sesuatu yang belum pernah kulakukan

Aku rindu berkunjung ke tempat saudara-saudara kita di fakultas-fakultas lain atau di univeristas lain

Aku rindu persiapan kita untuk melakukan kegiatan

Aku rindu berkegiatan di alam

Aku rindu paska kegiatan

Aku rindu perdebatan kita

Aku rindu pulang malam

Aku rindu tidur di sekre

Aku rindu pulang pagi saat matahari baru terbit

Aku rindu suasana alam dengan musik-musik indie

Aku rindu perjalanan kita di motor

Aku rindu evaluasi kita yang berjam-jam

Aku rindu kedatangan alumni

Aku rindu membawa air dalam Jumbo

Aku rindu menaiki motor kalian

Aku rindu kebersamaan kita saat makan bersama, di alam, di warung, di sekre dimanapun itu

Aku rindu kalian

Aku rindu kamu, plah!

Rindu yang tak tahu harus disampaikan kepada siapa.

Awalnya berat melakukan itu semua. Berat banget. Mesti lembur. Mesti bangun pagi. Mesti latihan fisik. Mesti persiapan tetek bengek. Mesti sakit hati dulu. Mesti mengorbankan semua yang ada. Berat. Baru masuk jadi mahasiswa tiap hari mesti pulang malam. Sendiri pakai sepeda. Gak ada ketakutan sama sekali. Hal-hal itu ternyata yang bikin rindu. Hal-hal yang tadinya aku gak suka.

Ayok bangkit, plah! Aku gak suka kamu yang menyerah. Aku gak tau mau mulai dari mana awalnya. Aku takut salah, Kamu punya semua orang. Aku takut mengecewakan. Tapi, aku lebih merasa bersalah kalau di ulang tahunmu yang ‘perak’ ini, kita tidak menghasilkan apa-apa. Maafkan kita plah.

My God give us a power to wake up our Plah!

 

 

Diposkan pada #31harimenulis

Apa yang Kita Lakukan akan Kembali ke Kita

Pernah gak sih, kamu merasa membutuhkan seseorang disaat kamu melakukan apapun itu? Pas lagi bahagia, sedih, sepi, sendiri, kecewa, hancur, atau pas lagi dicaci maki. Pernah gak sih? Kayak seseorang yang bukan membela kita ketika kita salah, tapi mengapresiasi apapun yang kita lakukan baru setelah itu mengkritiknya (kalau kita bener-bener salah). Gimana sih rasanya kalau udah usaha, tapi gak dihargai sama sekali? istilahnya pekerjaanmu langsung dibanting ke lantai.

Mungkin memang benar pekerjaan kita salah atau tidak sesuai tapi apa tidak bisa bilang terima kasih dulu? Seharusnya ada tiga kata yang perlu di budayakan sejak kecil, yaitu tolong, terima kasih dan maaf. Ternyata lebih enak ya kalau minta bantuan pakai tolong. Coba perhatikan kalimat ini. Mana yang lebih enak didengar?

Dek, tolong bawakan buku-buku ini ke meja saya di ruang R43. Atau, Dek, bawakan buku-buku ini ke meja saya di ruang R43.

Terima kasih untuk teman-teman yang sudah mau datang untuk rapat kali ini. Berhubung sudah lengkap, mari kita mulai rapatnya. Atau Yuk, orangnya udah lengkap, mulai aja ya rapatnya.

Kok telat sih? Maaf ya, saya baru bangun. Semalam ada agenda di kampus sampai jam 1 malam, jadi bangunnya keseiangan. Atau kok telat sih? iya baru bangun, Semalam ada agenda di kampus sampai jam 1 malam, jadi bangunnya keseiangan.

Perlakukan orang lain seperti kita ingin diperlakukan.

Diposkan pada #31harimenulis

Pikiran Aset Berharga Manusia

“Pikiran adalah aset yang paling berharga dan penting buat kita. Karna itu harus di jaga agar dia; senantiasa berpikir positif dan jernih. Dan biarkan dia berkelana sebebas-bebasnya menembus cakrawala agar mampu menghasilkan inovasi dan kreativitas yang “Out of the Box.”

Selalu kendalikan fikiran, meskipun bebas berkelana tanpa batas, tetap berjalan Akhlaqul Karimah.

(Ishadi S.K -CEO Trans TV)

Diperoleh langsung dari Pak Ishadi pada acara Publikom Gama, Jumat 12 Mei 2017 di Auditorium Fisipol UGM.

Diposkan pada #31harimenulis

Sekali lagi

Sekali lagi sudah tiba waktunya untuk mengikuti impian itu.

Semangat!

Jangan menyerah.

Kamu tidak terlalu tua untuk melakukan sesuatu. Kalau kamu merasa demikian, bisa jadi itu alasan kamu untuk menyerah sebelum perang. Go! Go! Go!

Diposkan pada #31harimenulis

Tutorial 4 menit, jadinya 40 menit

Minggu-minggu sebelum UAS memang lumayan senggang. Bosen juga kalau tiap hari lihat vlog-vlog di Youtube. Alhasil tadi malam mencoba aplikasi edit foto online yaitu pixlr. Ada dua maca foto editor dan express. Untuk foto express mudah sekali dipahami. Sedangkan untuk editor, lumayan susah bagi saya. Jadi perlu pembimbing yaitu video tutorial di youtube.

Iseng sih nyari yang waktunya dikit. Nemu deh yang 4 menit. Lihat-lihat lalu nyoba. Mesti ngeplay video berkali-kali soalnya masih belum mudeng. “Loh di tutorial kok jadi, kok ini gak. Sek-sek coba diulang lagi.” Gitu terus sampai bosen. Alhasil foto yang diatas itu di dapatkan dengan susah payah. Hasilnya memang tidak terlalu bagus. Tapi saya bangga sudah mau mencobanya. Belajar otodidak memang sulit, makanya perlu pembimbing. Teknologi memudahkan kita untuk mencari ‘pembimbing’ hehe. Jangan takut mencoba, gapapa jelek atau tidak sesuai keinginan. Daripada kita punya peralatan yang canggih tapi tidak digunakan? hehe