WAFAT

Ternyata tidak seperti apa yang aku bayangkan. Sesampainya di rumah sakit, aku langsung cari kamar ibu. Aku tanya satpam. “Kamar Dahlia di mana ya?” “itu pojok sebelah timur,” katanya. Langsung aku bergegas ke tempat yang dikasih tunjuk satpam. Deg deg deg, langkah kakiku mulai lemas. Aku nyari kamar nomor 20 sesuai chat yang dikasih tahu masku. Pas masuk ruang Dahlia. Aku lihat nomor kamar kanan kiri. Tiba tiba aku dengar teriakan mirip suara ibuku. Awalnya aku ragu itu suara ibu. Tapi, aku langsung lari ke ujung, ke sumber suara itu.

Lemes dan gak tau harus ngapain. Ibu lagi ngerasa sakit luar biasa. Bapak langsung ngasih aku masker. Pas udah gak sakit, ibu bilang “habis teriak rasanya lega.” Ada kalanya ibu ngerasa sakit. Ada kalanya ibu sudah bisa tenang. Gitu terus sampai malam. Aku gak ada pikiran apa-apa, cuma netes air mata sambil nemenin Ibu nyebut “Allah Allah” atau kalimat Allah lainnya.

Tiap detik ibu selalu nyebut kalimat Allah. Entah Allah Allah, Istighfar, Syahadat dan kalimat suci lainnya. “Ampuni dosaku ya Allah” kata Ibu. “Aamiin Aamiin” kataku. Entah kenapa ibu gak meminta kesembuhan, tapi meminta ampunan. “Doakan ibu wik.” “iya ini dibantu doa.” “Ishom ndi?” kata Ibu. Ishom adalah kakak pas diatasku. Dia gak bisa dihubungi. Ditelepon, di WA, disms, gak dijawab. Geregetan aku. Pas dia balas udah mau magrib. Dia bilang mau ke rumah sakit habis Isya. “Enggak, sekarang aja pokoknya,” kataku. Trus dia datang sebelum magrib.

Habis magrib banyak banget yang njenguk ibu. Mungkin ada tiga puluh orang. Entah kenapa pas mereka berdoa untuk ibu, aku hopeless doa itu bakal dikabulkan. Kayak mustahil. Astagfirullah. Tapi, ini yang aku rasakan.

Malam semakin larut. Seperti yang aku katakana sebelumnya, ada kalanya ibu merasa sakit. Ada kalanya ibu sudah bisa tenang. Sekitar jam 10 malam, bapak, embah mur, masku yang pertama dan kedua mulai tidur setelah seharian nemenin ibu. Jujur aku capek dan laper waktu itu. Tapi, entah kenapa aku gak pengen tidur. Mau nemenin ibu aja. Walaupun kondisi ibu sudah tenang dan mulai tidur. Tanganku selalu pegang tangan ibu.

Tiba-tiba ibu meminta sesuatu yang tidak bisa aku ceritakan disini. Beberapa saat setelah itu, ibu merasa sakit yang luar biasa. Napasnya sesak. Dipakein oksigen sudah gak mau. Tambah sesak katanya kalau dikasih oksigen. Aku langsung lari ke tempat dokter buat minta obat atau apalah. Pas sudah sampai, suster bilang “udah pakein oksigen aja.” Wah gak ngerti lagi. Aku balik lagi ke kamar ibu. Pas sampai, ibu lagi ngerasa sakit. Ibu bilang “jangan lama-lama ya Allah, kasihan aku.”

Intinya di detik detik itu, kami (aku, bapak, mas pertama, dan mbah mur) selalu nemenin ibu bilang kalimat kalimat Allah. Kalau ibu melenceng bilang yang lain kayak “wik wik” atau apa, Kami selalu mengembalikan “Allah Allah buk.”

Entah berapa menit, ibu gak pakai oksigen. Karena pas aku pasang, ibu gak nyaman dan merasa sesak. Tapi, aku bilang “ini buat mbantu napas bu.” Ibu tetap gak mau.

Tiba-tiba ibu berhenti ngomong. Bener-bener gak ada suara. Pas itu aku langsung pegang pundak masku, sambil netes air mata. Lalu aku bisikan syahadat di telinga kiri ibu. Pas aku udah selesai baca, Ibu menghembuskan nafas terakhir. Mbah bilang “kamu tega ninggalin kami.”

Pas saat itu aku masih gak percaya. Aku lihat dada ibu masih bernapas. Ibu cuma tidur, pikirku. Aku langsung lari panggil dokter dan masku yang kedua yang tidur di luar. Dengan perlengkapan yang ada, dokter memastikan kondisi ibu. Dokter bilang “Niki pun mboten enten pak.” (Ini sudah gak ada, katanya.)

Langsung aku lemes, nangis sesegukan. Masku ngabarin keluarga di rumah buat nyiapin semuanya. Aku sempat telefon dua sahabatku, hanya suara tangis yang aku berikan. Pas tangisanku sudah agak reda, embah bilang “Kenapa ibumu sudah dipanggil sedangkan mbah kakungmu yang sudah lama sakit belum juga dipanggil wik? Karena Allah sayang sama ibumu. Nih dibayangkan, Ibu wafat pas hari Jumat, hari yang bagus bagi umat Islam. Ibumu selalu nyebut nama nama Allah. Rasa sakitnya itu itu buat menghapus semua dosanya. Ibumu wafat juga pas sudah ketemu semua anak-anaknya. Sekarang kamu punya simpenan buat doain ibumu.”

Administrasi rumah sakit sudah selesai diurus. Malam semakin larut sekitar jam 12 atau satu. Kami menyusuri lorong rumah sakit. Kami mengantar ibu ke ruang jenazah. Di Ruang jenazah, Masku yang pertama dikasih Surat Kematian. Setelah itu, Ibu dimasukan ke dalam ambulance.

Kekhawatiranku selama ini adalah ketika aku pulang dari Jogja aku melihat bendera putih di depan gang rumahku. Kekhawatiranku tidak terjadi. Yang terjadi adalah pulang mengendarai motor bareng kedua masku (masing-masing mengendarai motor) di tengah malam dengan ditemani hujan gerimis. Ambulance yang mengantar ibu sudah duluan di depan. Selama perjalanan ke rumah, aku cuma lemes dan beberapa kali nangis di jalan.

BERSAMBUNG

Iklan

FIRASAT

Sekitar dua minggu sebelum 9 Maret 2018, aku mimpi ibu  tiga kali berturut-turut. Pertama, mimpi ibu duduk di ranjang kasur dengan bengkak seluruh tubuh. Kedua, mimpi ibu ngeluh gak bisa napas. Ketiga, mimpi paman mempersiapkan sesuatu (yang saya gak tau) dan menyuruhku untuk ikhlas.

Akhir pekan, aku putuskan untuk pulang kampung. Aku kangen. Eh sebelum akhir pekan, mbaku bilang “ibu udah seminggu sakit.” Deg. Keinginan untuk pulang semakin menjadi jadi. Alhamdulillah kuliah di hari Rabu kosong. Jadi, Rabu pagi (28/2), aku langsung pulang ke Kebumen tanpa berpikir panjang.

Pas sampai di Kebumen, iya ibu udah gak melaksanakan aktivitas apa-apa. Ibu baru periksa ke dokter katanya. Jadi sering minum obat. Ibu masih terlihat sehat-sehat saja. Hatiku sedikit lega. Jumatnya, aku putuskan balik ke Jogja karena besoknya ada pembakalan KKN. Hari Selasa minggu depan juga akan ada arisan keluarga di rumah dan sepupu mau nikahan. Rumah pasti ramai. Bapak Ibu nanti gak kesepian.

Hari Selasa sore (6/3), pas arisan keluarga,  bapak telepon “Koe gowo KK ora?” “hah?” kataku. “Koe gowo KK ora?” bapak mengulang. Oh kartu keluarga. “ora pak.” Bapak jawab “yo wis” lalu telpon ditutup. Hatiku langsung galau. Ngapain nyari KK? Ada dua kemungkinan yang aku pikirkan. Pertama, bapak mau ke kelurahan ngurus sesuatu. Kedua, bapak mau ke rumah sakit.

Benar. Mbaku ngechat “ibu mau dibawa ke rumah sakit.” Wah campur aduk perasaanku. Langsung aku tanya macem-macem. Sampailah pada kenyataan “ibu diopname.” Galau lah aku. Akhir pekan pilih ikut survei ke Merbabu atau pulang ke kampung. Kebetulan untuk survei ke Merbabu cuma empat orang termasuk aku. Jadi ngerasa gak enak kalau meninggalkan teman-teman. Kalau aku gak pulang kampung, perasaanku gak karuan. Aku takut kalau ikut survei, terjadi apa-apa di rumah. Aku putuskan untuk gak ikut survei dan izin ke ketua acara.

Sebelum pulang kampung, aku nyelesaiin semua tugas kuliahku. Aku gak mau ada beban pikiran tentang tugas. Jumat siang (9 Maret), setelah kelas aku langsung pulang ke Kebumen. Hawanya panas banget di jalan karena pas jam satu siang. Di jalan, aku mikir mau langsung ke rumah sakit atau rumah. Keputusanku langsung ke rumah sakit. Toh di rumah juga pasti sepi. Aku juga kepikiran ibu lagi apa ya? Paling lagi goleran di kasur dan bapak paling lagi ngobrol sama penunggu kamar sebelah.

BERSAMBUNG

Patah Hati, Ibarat Memotong Kuku.

Jpeg

Tidak, saya sedang tidak patah hati. Beberapa waktu lalu, teman saya patah hati karena hubungan yang selama ini ia jalin putus. Iya, pacaran. Jadi gini pesan yang saya sampaikan padanya.

Pacaran itu ibarat memelihara kuku. Kedua pihak ingin hubungan yang langgeng, ingin kuku yang panjang. Namun sayang, hubungannya menuai masalah, kukunya lambat laun menghitam. Salah satu di antara pasangan menghendaki kuku itu dipotong. Salah satu enggan. Keputusan pertamalah yang diambil. Hubungan pun putus, kuku dipotong.

Yaa, saya rasa itu memang yang terbaik.  Toh kalau hubungan itu berlanjut gak akan baik nantinya. Mending dipotong kukunya, mending putus dulu. Nanti bisa manjangin kuku lagi, nanti bisa menjalin hubungan lagi. Percuma kuku panjang, tapi item-item. Percuma hubungan langgeng, tapi gak “sehat.”

“Allah cemburu sama orang yang pacaran.”

Saling menunggu balasan, saling memikirkan. Kamu pikir Allah gak cemburu?

Ibaratnya gini, pacaran itu kayak kita manjangin kuku waktu masih kecil. Bagaimanapun cara manjangin kuku tetep aja ada kotorannya item-item. Pacaran bagaimanapun cara “sehat” yang diterapkan tetep aja haram. Mending nanti panjangin kukunya kalau udah dewasa. Udah bisa ngerawat tuh kuku. Udah bisa manicure pedicure ke Salon. Kan jadi cantik kukunya. Intinya, mending nanti pacarannya kalau udah siap nikah. Udah bisa saling menjaga. Udah halal pokonya. Semua yang dilakukan kan jadi ibadah. Iya kagak??

Oh iya, ingat yang dipotong kukunya, bukan tangannya. Yang diputus pacarannya, bukan silaturahminya.

Main ke Kaki Gunung Sumbing Sindoro

Minggu pertama kuliah, aku putuskan untuk pergi ke luar kota. Aku gak mau menghabiskan akhir pekan hanya dengan bersemayam di kosan. Kebetulan, Sarah, teman dekatku mengajak ke rumahnya di Temanggung, Jawa Tengah. Tanpa pikir panjang, aku langsung bilang “ikut.” Temanggung dekat dengan Gunung Sumbing, Sindoro, dan Prau. Jadi, mari kita sebut Temanggung sebagai Kaki Gunung Sumbing Sindoro. Ini catatan perjalananku selama di Temanggung tentang suasana, tempat wisata, kuliner dan sera serbinya.

  1. Alun-alun Temanggung

IMG_20180209_184836

Jumat sore, kami (Aku dan Sarah) berangkat dari Jogja ke Temanggung dengan waktu tempuh sekitar 2,5 jam menggunakan sepeda motor. Sebelum sampai, kami mampir ke alun-alun Temanggung. Alun-alun Temanggung tidak seperti alun-alun biasanya yang terbuka dan lapang. Alun-alun Temanggung tertutup tembok dan terlihat seperti benteng. Ukurannya tidak terlalu luas dibanding alun-alun Kebumen (tempatku lahir). Hal yang menarik perhatian yaitu ikon tulisan “Kota Tembakau,” air mancur, dan pohon besar yang ikut tersorot cahaya dari lampu air mancur. Ya, Kota Temanggung memang terkenal dengan tembakaunya.

  1. Jembatan Sikrikil

IMG_7445

Kami sampai di rumah Sarah sekitar jam delapan malam. Pas sampai rumah aku kaget, kita masuk sampai ke dapur pakai motor. Melewati ruang tamu dan ruang TV. Lucu banget parkirnya di dapur, speechless aku. Kami langsung dipersilahkan makan malam. Balungan (tulang ayam) itu menunya. Ibunya Sarah pintar masak gak kayak Sarah. Upss. Paginya, di hari Sabtu, Kami sepakat mau main. Tapi,belum tahu ke mana. Di rumah Sarah, jadi malas pergi ke mana mana.  Kami baru keluar rumah sore sekitar jam empat. Datang ke Temanggung aja aku udah seneng, apalagi ke tempat wisatanya. Sarah memberiku beberapa pilihan tempat untuk dikunjungi. Aku manut, kemanapun hayok. Terpilihlah Jembatan Sikrikil.

Kenapa dinamakan Jembatan Sikrikil? Aku gak tau hihi. Aku Cuma diberi tahu kalau  jembatan ini diresmikan oleh Presiden Jokowi. Sekilas gak ada yang istimewa dari jembatan ini. Tapi, dari Jembatan Sikrikil kita bisa menikmati sore hari layaknya di daerah pedesaaan. Dengan angin sepoi-sepoi, suara aliran air sungai, lihat petani di ladang, warga yang memancing di sungai, dan burung-burung yang mulai sliweran. Sayang, ada beberapa anak desa yang mengacaukan suasana itu. Mereka mendekati kami dan menanyakan sesuatu dengan tidak sopan. Ditambah lagi dengan suara motor bising yang membuat kami ingin segera pergi dari jembatan itu. Alhasil kami ke destinasi selanjutnya.

  1. Candi Pringapus

IMG_20180210_161623

Setelah pergi dari Jembatan Sikrikil, kami mengunjungi Candi Pringapus. Candi Pringapus mungkin memang tidak diperuntukan sebagai tempat wisata. Candi Pringapus terdiri dari satu candi, dipagar dengan bebatuan, dan pengunjung dilarang masuk. Jadi, cukup tau saja candi itu seperti apa. Sebenarnya kurang afdol kalau kita mengunjungi suatu tempat tanpa tahu informasi detail dari tempat itu. Tapi, candi itu terlihat sepi dan tidak ada informasi yang bisa ku baca selain, “Candi Pringapus dilindungi oleh Undang-Undang karena merupakan cagar budaya.”

  1. Situs Liyangan

IMG_7469

Ada mitos yang mengatakan kalau candi yang ada di Situs Liyangan digali, satu desa bisa digusur. Terkait benar atau salah mitos tersebut, kalaupun benar aku rasa akan banyak tenaga, waktu, dan uang yang dikeluarkan. Aku gak yakin pemerintah mau mengusahakannya. Banyak hal yang mesti dipikirkan dan dilakukan. Salah satunya rumah warga mau dipindah ke mana? Yakin warga akan pro? Dana untuk menggalinya bagaimana? Kalaupun benar suatu saat candi di Situs Liyangan digali, aku rasa akan banyak pengunjung dari dalam maupun luar negeri yang berkunjung. Karena menurut mitos juga, candi ini lebih besar daripada candi Borobudur. Kita lihat saja nanti.

  1. Kuliner Jenang Murah

IMG_20180210_174523

Sebelum magrib, Sarah mangajak ke warung kecil dekat masjid untuk beli jenang. Aku lebih suka menyebut ini sebagai kolak. Rasanya mirip banget dengan kolak dengan rasa dominan manis dari pisang. Mutiara menambah cita rasa karena kekenyalannya. Pas makan kolak ini jadi ingat suasana Ramadhan, pas mau buka puasa. Ditambah lagi, banyak anak-anak pesantren yang mengantri beli. Kolak ini murah banget cuma Rp 2.000,- enak, dan porsinya banyak. Gak rela rasanya kalau jajanan seperti ini suatu saat punah.

  1. Posong dengan keindahan Sindoro dan Sumbing

IMG_7527

“Besok bangun pagi dew, setengah empat. Kita ke posong lihat sunrise.” Kami pasang alarm jam setengah empat pas. Aku dan Sarah bangun. Tapi, sumpah ngantuk gak bisa ketahan dan hawa dingin itu bikin ingin tidur aja. “Udah lah gapapa, gak ke posong. Enak banget nih tidur,” kataku dalam hati. Tapi, jam setengah 5, Sarah ngajak  aku siap-siap pergi ke Posong. Perjalanan ke Posong lumayan lama, sejam lebih. Kami sempat kebingungan mencari gang untuk masuk ke Posong karena gelap. Akhirnya nemu.

Sebelum masuk Posong, kita pasti ditarik uang retribusi Rp 10.000,- per orang dan parkir Rp. 2.000,- (untuk sepeda motor). Gak mahal dibanding pemandangan yang akan kita lihat nanti. Wah gak salah, aku bangun pagi-pagi buta dan menembus angin dingin, cyaaah. Sumpah, pagi itu indah banget di posong. Banyangkan kita bisa di atas awan tanpa mendaki gunung. Kita bisa lihat sunrise yang indahnya Masha Allah. Kita bisa lihat tuh dua gunung, Sumbing dan Sindoro kek deket banget, gede banget. Itu pertanian warga jadi bikin ngiler. Jadi pengen bertani, seger-seger gitu tanemannya. Pokoknya kalau ke Temanggung. Wajib hukumnya kalian datang ke Posong pagi-pagi.

  1. Bubur Pasar Ngadirejo

IMG_20180211_072746.jpg

Bahagia banget kalau deket kos ku ada yang jual bubur kayak gitu. Tiap pagi pasti aku beli. Rasa buburnya kerasa rempah-rempah banget.  Walaupun tanpa lauk, rasanya udah enak dan pengen nambah. Ditambah harga buburnya murah cuma Rp 3.000,- Dibanding bubur ayam, aku lebih suka bubur sayur itu. Kirain rasa sayur bihunnya bakalan hambar ternyata maknyus. Wah pantes aja banyak yang antri.

Aku nulis ini bukan karena ingin pamer. Bukan, sama sekali tidak. Aku cuma ingin berlatih menulis. Sayang, banget kalau udah kuliah di komunikasi kita gak bisa nulis apalagi peminatanku jurnalisme. Kata dosenku “menulislah apa yang ada dipikiran kalian.” Aku mulai menulis pas ada event #31harimenulis. Aku menulis 31 hari non stop. Tujuan event itu untuk terlaltih menulis. Karena saya suka berpergian, suka jalan-jalan, suka di alam. Kenapa enggak saya menulis tentang alam. Awalnya saya menulis untuk diri saya sendiri. Membacanya kembali kelak. “Oh iya aku pernah ke sini, wah iya ada cerita kaya gini.” Foto memang menggambarkan berjuta cerita. Tapi, tulisan membantu kita mengingat cerita.Semoga tulisan ini gak bermanfaat buat ku saja, tapi juga kalian pembaca.

Antara Hidup dan Mati di Hutan

Review Buku “Cerita dari Digul”

Liburan semester kemarin, saya pikir akan jadi nirfaedah kalau setiap hari menonton drama Korea. Baru juga seminggu liburan, sudah habis hampir dua drama.  Jadi, saya putuskan untuk baca buku, apapun itu genrenya. Buku “Cerita dari Digul” saya pinjam dari teman SMA yang  kebetulan bawa buku itu pas saya mengeluh ingin baca buku. Saya tertarik meminjam karena penyuntingnya adalah sastrawan terkenal, Pramoedya Ananta Toer.

Buku “Cerita dari Digul” mengingatkan saya akan perjuangan antara hidup dan mati di hutan. Kebetulan saya beberapa kali berkesempatan untuk naik gunung. Jadi ada sedikit kisah yang sama dengan cerita para eks-Digulis dalam buku ini. Isi buku “Cerita dari Digul” yaitu kisah para eks-Digulis yang pernah dibuang sebagai tahanan politik selama pemerintah Kolonial Hindia Belanda (tahun 1929), seperti keterangan dalam cover belakangnya. Oh iya, Digul adalah nama daerah di Papua Barat.

Ada lima kisah dalam buku ini. Saya tertarik membahas kisah berjudul “Antara Hidup dan Mati atau Buron dari Boven Digul.” Cerita “Rustam Digulist, Darah dan Air Mata di Boven Digul, dan Pandu Anak Buangan” lebih banyak berkisah tentang kecintaan seseorang pada orang lain, entah keluarga atau someone special. Saya belum tertarik untuk membahas tentang cinta. Sedangkan, kisah “Minggat dari Digul” hampir sama dengan kisah yang pertama.

Jadi, mari kita ulas.

Di hutan, kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi. Seseorang pernah berkata “pikirkan kemungkinan terburuk.” Badai, hujan, serangan hewan buas, dan lainnya. Pergi ke hutan atau naik gunung bukan kegiatan asal-asalan yang semua orang bisa lakukan tanpa persiapan. Bukan kegiatan untuk menjadikan diri kita keren. Tujuan utama naik gunung ya untuk kembali dengan selamat. Jadi ,ada banyak persiapan yang harus kita lakukan untuk naik gunung hutan.

Kisah “Antara Hidup dan Mati atau Buron dari Boven Digul” dimulai dengan kesepakatan tujuh orang Digulis untuk kabur dari Digul. Beras, ikan teri, korek api, tembakau, parang, baju ganti, kelambu, pancing, kompas, peta, dan lainya mereka bawa untuk keperluan perjalanan. Peta dan kompas adalah nyawa utama dalam perjalanan. Begitu juga dengan perlengkapan lain yang kalian bawa. Jangan sampai tercecer apalagi tertinggal.

Di hutan, ketika persediaan makan menipis tumbuhan dan hewan dijadikan santapan. Keduanya boleh diambil seperlunya (atau dalam situasi darurat saja) dan jangan ambil tumbuhan dan hewan yang dilindungi. Kita juga mesti tahu tumbuhan apa saja yang bisa dimakan, hewan apa yang dilindungi atau tidak, dan bagaimana cara memasaknya. Nah pergi ke hutan itu bawa perlengkapan seperti itu ya. Tak usah lah ke hutan bawa boneka apalagi maskara.

Di perjalanan banyak rintangan yang para Digulis hadapi. Hujan, banjir, buaya, nyamuk malaria sampai Kayakaya (orang Papun yang tinggal di hutan). Mereka mendapat serangan dari buaya (bajul) hingga banyak bekal yang hanyut di sungai. Nyamuk malaria membuat salah seorang di antara mereka memiliki air kencing berwarna hitam, hingga akhirnya ia meninggal. Konon katanya, Kayakaya bisa memenggal kepala orang lain secara sadis. Namun, mereka (para Digulis) sempat satu dua hari tinggal di rumah Kayakaya. Mereka disambut dengan pesta malam harinya.  Karena kecurigaan mereka, maka pagi pagi buta mereka kabur.

Persediaan makanan mereka kian hari kian menipis. Mereka mencari tumbuhan dan hewan yang bisa dimakan. Telur penyu, burung, ikan, sagu, pisang (di kebun Kayakaya), dan lainnya jadi kebahagiaan. Biasanya sih, setelah melakukan perjalanan yang panjang kita jadi malas untuk makan. Belum lagi masuk angin menyerang. Pernah pas diksar sesi survival saya malas nyari makan dan makan. Akhirnya saya masuk angin sampai mau munta, tapi, isi perut tidak ada. Sedikit cerita, kami mendapatkan buah berry, tumbuhan paku, dan ulat jadi saya tidak napsu makan (hanya makan sedikit).

Kembali ke cerita di buku. Dari ke tujuh Digulis hanya tiga yang tersisa (Sujito, Kamlin dan Rusman) dan sampai tujuan. Karena dalam perjalanan, satu persatu di antara mereka meninggal. Namun, sayang beberapa hari di tempat tujuan, ketiganya ditangkap oleh petugas dari Digul dan membawanya ke Digul kembali. Kabur yang gagal.

Intinya naik gunung atau masuk ke hutan bukan perkara yang mudah. Apalagi bagi para Digulis di tanah Papua. Hutan di Papua berbeda dengan di Pulau Jawa. Beberapa tahun belakangan, ramai sekali orang naik gunung. Bahkan setelah munculnya film 5cm, pengunjung gunung Semeru membludak. Sama membludaknya dengan sampah di Ranu Kumbolo. Instagram juga dibanjiri dengan foto-foto instagramable di gunung. Sebenarnya tujuannya apa sih naik gunung? Apapun itu, safety first ya guys. Safety untuk diri sendiri, teman perjalanan, teman ketemu di jalan, penduduk setempat, dan lingkungan.

Sekian.

 

Bumi adalah Emakku

….. adalah rumah, ibu, sosok orang tua yang memberikan saya nama, identitas, saudara dan keluarga (JA).

Rumah

Rumah tempatmu pulang, meluapkan semua keluh kesah. Mau kamu gak suka rumah, kamu tetap akan balik ke rumah. Kabur? Nanti juga balik lagi. Iya kan?

Rumah kita rusak. Semua saling menyalahkan. Merasa dirinya benar.

Awalnya hanya atap rumah yang bocor.  Orang rumah pergi satu per satu pergi tak mampu memperbaiki. Lama-lama dinding berlubang, pintunya menghilang, jendelanya pergi melayang. Terulang, orang rumah tak bisa membenahi dan memilih pergi.

Hasilnya? Rumah kita sudah seperti ini. Terlalu banyak yang perlu diperbaiki. Hingga kami berjanji untuk tidak saling pergi, setidaknya kalau rumah ini sudah layak huni.

 

Ibu

Saat Ibu sakit, apa yang kita lakukan? Apa iya ibu kita sakit, kita masih tetap sekolah? Apa iya ibu kita sakit, kita main sama teman teman kita? Kamu tahu, kamu gak akan membiarkan ibu terus sakit. Kini, semua pikiranmu tertuju pada ibu.

Maaf ibu, ketika ibu sakit, saya hanya bisa menangis. Maaf ibu, ketika ibu sakit, kakak cuma bilang “kalau obat ini gak berhasil, yaudah serahkan pada takdir.” Maaf ibu, ketika ibu sakit, adek lah yang berkata “AYO BAWA KE RUMAH SAKIT.”

 

Sanshiro

Kamis, 21 Desember 2017

Tentang Desember

Tiba-tiba teringat desember-desember tahun lalu. Di bulan ini, seperti semua masalah bermuara. Tidak ada cara lain, selain menghadapinya.

Desember 2014, momen dimana ada persidangan kecil dengan teman-teman kelas 3 SMA. Masalah kami cukup rumit. Kami sekelas tapi tak pernah menyatu. Kami berkubu-kubu. Sampai suatu ketika kubu kami dan kubu seberang saling jatuh cinta. Sayang, cinta kandas karena kubu sana ada main cinta dengan sesama kubu. Persidangan dimulai dan diakhiri dengan pikiran berat. Pikiran yang selama ini membayang-bayangi akhirnya menemui titik temu. Kita antar kubu sepakat pisah.

Desember 2015, kamu tahu salah satu hal yang paling menyedihkan di dunia ini? Orang yang selama ini menutupi kebohongan dengan rapih akhirnya terbongkar juga. Ayah selalu berbohong, kalau keluarga kita baik-baik saja. Ternyata tidak. Lubang ada di mana-mana. Saya menangis sejadi-jadinya. Kakak yang berusaha menutup lubang-lubang itu. Entah bagaimana caranya.

Desember 2016, (bagi saya) awal dari semua permasalahan organisasi. Semuanya hilang.

Desember 2017, saya berharap akan menemui titik terang. Saya lelah terombang-abing di badai. Badai terlalu lama datang. Tak ada cahaya, padahal kami Janitra. Ah, kambing. Saya ingin pergi saja. Tapi nanti saya jadi pengecut sama kayak mereka yang memilih tidak bertanggung jawab. Tapi saya tidak mau permasalahan ini berkepanjangan. Tapi saya MALAS untuk memulai semuanya. kenapa? mungkin karena ketidaknyamanan ini memang sangat tidak nyaman. tapi mau sampai kapan. Nanti saya pikirkan.

#berdialektika