Bumi adalah Emakku

….. adalah rumah, ibu, sosok orang tua yang memberikan saya nama, identitas, saudara dan keluarga (JA).

Rumah

Rumah tempatmu pulang, meluapkan semua keluh kesah. Mau kamu gak suka rumah, kamu tetap akan balik ke rumah. Kabur? Nanti juga balik lagi. Iya kan?

Rumah kita rusak. Semua saling menyalahkan. Merasa dirinya benar.

Awalnya hanya atap rumah yang bocor.  Orang rumah pergi satu per satu pergi tak mampu memperbaiki. Lama-lama dinding berlubang, pintunya menghilang, jendelanya pergi melayang. Terulang, orang rumah tak bisa membenahi dan memilih pergi.

Hasilnya? Rumah kita sudah seperti ini. Terlalu banyak yang perlu diperbaiki. Hingga kami berjanji untuk tidak saling pergi, setidaknya kalau rumah ini sudah layak huni.

 

Ibu

Saat Ibu sakit, apa yang kita lakukan? Apa iya ibu kita sakit, kita masih tetap sekolah? Apa iya ibu kita sakit, kita main sama teman teman kita? Kamu tahu, kamu gak akan membiarkan ibu terus sakit. Kini, semua pikiranmu tertuju pada ibu.

Maaf ibu, ketika ibu sakit, saya hanya bisa menangis. Maaf ibu, ketika ibu sakit, kakak cuma bilang “kalau obat ini gak berhasil, yaudah serahkan pada takdir.” Maaf ibu, ketika ibu sakit, adek lah yang berkata “AYO BAWA KE RUMAH SAKIT.”

 

Sanshiro

Kamis, 21 Desember 2017

Iklan

Tentang Desember

Tiba-tiba teringat desember-desember tahun lalu. Di bulan ini, seperti semua masalah bermuara. Tidak ada cara lain, selain menghadapinya.

Desember 2014, momen dimana ada persidangan kecil dengan teman-teman kelas 3 SMA. Masalah kami cukup rumit. Kami sekelas tapi tak pernah menyatu. Kami berkubu-kubu. Sampai suatu ketika kubu kami dan kubu seberang saling jatuh cinta. Sayang, cinta kandas karena kubu sana ada main cinta dengan sesama kubu. Persidangan dimulai dan diakhiri dengan pikiran berat. Pikiran yang selama ini membayang-bayangi akhirnya menemui titik temu. Kita antar kubu sepakat pisah.

Desember 2015, kamu tahu salah satu hal yang paling menyedihkan di dunia ini? Orang yang selama ini menutupi kebohongan dengan rapih akhirnya terbongkar juga. Ayah selalu berbohong, kalau keluarga kita baik-baik saja. Ternyata tidak. Lubang ada di mana-mana. Saya menangis sejadi-jadinya. Kakak yang berusaha menutup lubang-lubang itu. Entah bagaimana caranya.

Desember 2016, (bagi saya) awal dari semua permasalahan organisasi. Semuanya hilang.

Desember 2017, saya berharap akan menemui titik terang. Saya lelah terombang-abing di badai. Badai terlalu lama datang. Tak ada cahaya, padahal kami Janitra. Ah, kambing. Saya ingin pergi saja. Tapi nanti saya jadi pengecut sama kayak mereka yang memilih tidak bertanggung jawab. Tapi saya tidak mau permasalahan ini berkepanjangan. Tapi saya MALAS untuk memulai semuanya. kenapa? mungkin karena ketidaknyamanan ini memang sangat tidak nyaman. tapi mau sampai kapan. Nanti saya pikirkan.

#berdialektika

Pemetaan Gua dan Gua

Sabtu, 18 November 2017

Gua Seplawan, Purworejo

Pahitnya kopi gak bisa disamakan dengan manisnya madu. Sama kayak gelapnya gua, gak bisa disamakan dengan terangnya bulan purnama.

Ini pertama kalinya Saya berkegiatan di gua. Ada dua jenis gua yang saya tahu. Gua vertikal dan horizontal. Sabtu kemarin, saya belajar pemetaan di Gua Seplawan (horizontal). Bukan hanya pemetaan gua, bukan hanya tentang stasioner, shutter, clino, kompas, deskriper dan lainnya. Tapi juga pemetaan tentang hidup ini. Pemetaan gua (saya).

Ada dua alasan kenapa orang malas untuk melakukan sesuatu (menurut video yang aku tonton di Youtube). Pertama, ia tidak punya tujuan atau target yang ingin dicapai. Kedua, ia sedang tidak menghindari rasa “sakit.” Kamu yang mana?

Perihal tidak memiliki tujuan, saya rasa tidak semua orang memikirkan hal ini. Ada orang yang hidup untuk hari ini saja. Hidup sesuai angin membawanya kemana atau arus yang menyeretnya kemana. Ada orang yang sudah jelas memiliki tujuan hidup. Tahun sekian harus lulus, tahun sekian sudah kerja, tiga tahun kemudian harus sudah menikah, begitu seterusnya.

Kamu yang mana?

Hidup kita perlu dipetakan guys hehe. Tulis setiap hal yang ingin kita lakukan. Semustahil apapun keinginan itu. Kalau dulu gak ada orang yang memimpikan dirinya bisa terbang, mungkin gak akan ada pesawat di dunia ini.

Saya pernah menuliskan “UGM, Aku Pasti Bisa!” di tembok kamar. Bagi saya, masuk ke Universitas ini hanya isapan jempol belaka. Saya dari kota kecil termiskin kedua. Saya juga gak terlalu yakin  dapat mewujudkan itu. Tapi, kalau Allah sudah berfirman “KUN,” kamu bisa apa? Hehe.

Selamat mencoba dan berusaha!

Djelajah Kopi, Djelajah Pikiran Berani kumpul bareng temen tanpa akses internet?

Djelajah Kopi,

Kamis, 9 November 2017

21.00-02.00 WIB

 

Ini kedua kalinya saya ke Djelajah kopi. Awalnya untuk kebutuhan organisasi, eh sekarang untuk kebutuhan rohani. Bukan, bukan tentang kafenya, tapi perbincangannya.

Siapa sih yang bisa tahan berjam-jam, tanpa pegang hape?

Siapa sih yang bisa tahan berjam-jam, tanpa buka aplikasi media sosial?

Kalau kamu tahan berapa lama? Satu? Dua? atau tiga jam?

Di malam itu, kami bermain kata. Kami berlima, satu saya; dua, tiga, empat teman saya, dan lima teman baru. Permainan pertama, kami menulis masing-masing tiga kata secara bergantian pada secarik kertas.

Ternyata tidak mudah menulis tiga kata. Cuma tiga kata padahal. Tapi, perlu pemahaman agar tiga kata sebelumnya nyambung dengan tiga kata yang akan ditulis. Putaran pertama aman, putaran kedua ambyar.

Ini nih salah satu kalimat yang kami buat. “Aku jadi mikir detak dalam detik setiap aku berdialek diam tanpa sebab, semua terus bergerak.”

Permainan kedua, sebut kata dari tiga atau dua huruf terakhir yang disebut teman sebelah. Ah gimana penjelasannya? Gini, orang pertama menyebut kata “alam,” orang kedua menyebut “lampu.”  Jadi orang kedua bebas mau mulai kata dari “lam” atau “am.” Bisa saja dia sebut kata “ampuh.” Begitu seterusnya.

Ternyata permainan ini juga tidak mudah. Beberapa teman susah mencari kata yang tepat dan nyambung. Apalagi malam semakin larut, semakin ambyar dah. Ini nih suku kata yang sering membuat pikiran bekerja lebih keras “ah,” “au,” dan “ei.”

Satu hal lucu, kapan lagi coba, 5 jari telunjuk bertemu di satu bullpen yang berdiri. Cuma mau menentukan siapa yang bakal jawab jujur pertanyaan. Orang-orang bakal mikir, “ngapain coba?” tapi, bagi saya, peristiwa itu sederhana dan buat gelak tawa. Yakin deh suatu saat, gak ada lagi yang ngelakuinnya.

Apa sih maknanya?

Ternyata asik ya kalau berkumpul tanpa diganggu dunia maya, tanpa buka media sosial, tanpa akses internet sekalipun.

Kita sering banget minta bantuan google kalau kita gak tahu suatu hal. Coba deh pikirkan dulu, jangan langsung nyari. Lama gak mikirnya? Kami “iya” haha. Jangan-jangan otak kita mengalami penurunan kualitas? Hmm bisa jadi.

 

 

 

 

Kontribusi Terkecil dalam Organisasi adalah Konfirmasi.

Permasalahan jaman sekarang dalam berorganisasi semakin banyak. Pernah gak sih kalian mengeluhkan hal-hal kecil dalam organisasi?. Sama. Semisal organisasi kalian akan mengadakan rapat pada pukul 4 sore. Kalian sudah datang tepat jam 4. Ternyata teman-teman kita datang 30 menit lebih lama dari waktu yang ditentukan. Padahal kalian mesti mengerjakan tugas yang sudah mendekati dateline. Bagaimana rasanya?

Seberapa banyak dari kita yang memiliki grup virtual (grup Line atau WhatsApp) lebih dari 10? pasti banyak. Bahkan teman-teman saya memiliki grup Line lebih dari 100 grup. Sangat tidak efektif. Grup virtual dibuat untuk membantu kita dalam berkomunikasi dengan teman seorganisasi/sekelompok kita. Pernahkan kalian bertanya hal penting di grup tersebut, tapi tidak ada yang respon padahal sudah “read by 20”? Kecewa? tentu.

Bukan permasalahan besar yang merusak sebuah hubungan. Namun, kesalahpahaman kecil yang akan merusak hubungan. Contoh kejadian di atas. Kita telat rapat akan suatu hal? Bisakan KONFIRMASI kalau datang rapat terlambat karena suatu hal yang menghalangi. Kita tidak merespon suatu hal dalam grup. Bisakan KONFIRMASI sesuai apa yang kita tahu. Misal “Guys ada yang tahu dokumentasi acara kemarin bisa minta ke siapa?” bisakan dijawab “sama X” atau “enggak tahu.” Siapa tahu dia sedang mencari dokumentasi untuk LPJ ke kampus. Kasihan kan dia yang bertanya, apalagi menyangkut organisasi.

Ungkapan “kontribusi terkecil dalam organisasi adalah konfirmasi” saya dapatkan dari teman kampus. Ya ungkapan tersebut memang benar adanya, seperti kajadian-kejadian di atas yang sering sekali kita alami. So mulai lah belajar KONFIRMASI.” Kalau kontribusi terkecil saja kita tidak lakukan apa lagi, kontribusi yang besar.

 

Edelweis, (jika) Diibaratkan Bungkus Permen

Libur panjang memang asyik untuk mendaki gunung. Selain pemandangannya indah,  banyak hal menarik yang tidak ditemukan di dataran rendah. Salah satunya bunga edelweis.

Sekitar satu minggu yang lalu, seorang teman mengunggah foto tangannya menggengam edelweis yang sudah dipetik. Jangan ingatkan dia didepan orang banyak, karena itu akan melemahkannya. Ingatkan dia secara personal, maka ia akan berusaha memperbaikinya.

Q: Jangan dipetik (bunga edelweis) teman.

A: Dikit tok dew, yang sudah kering.

Percakapan itu ibaratnya begini

Q: Jangan buang (plastik) sembarangan.

A: Kecil kok ini, cuma bungkus permen.

Satu bungkus permen tidak terlalu mengotori jika dibuang sembarangan di tempat wisata. Kalau ada satu pengunjung yang berfikiran demikian, tidak jadi soal. Toh tempat wisata tiap hari juga dibersihkan oleh petugas. Kalau seribu pengunjung yang berfikiran demikian, bagaimana? tentu tempat wisata itu terasa tidak nyaman.

Sama seperti bunga edelweis yang dipetik, memang kecil dan beberapa bagian sudah kering. Kalau ada pendaki yang berfikiran demikian, INI TETAP JADI SOAL. Bunga edelweis butuh waktu untuk tumbuh, tidak setiap hari ia tumbuh layaknya petugas kebersihan yang selalu membersikan tempat wisata setiap hari. Apalagi seribu pendaki, bisa punah edelweis seperti yang terjadi di gunung Semeru.

Beberapa mitos tentang bunga abadi ini memang masih dipercayai banyak orang. Teman, itu mitos bukan fakta. Fakta edelweis adalah bunga yang dilindungi karena keberadaanya yang sudah mulai langka dan manfaat ekologis lainya.

“Tapi, bunga ini dapat menyembuhkan berbagai penyakit.” Kalau itu alasan memetik bunga edelweis, ada banyak cara untuk menyembuhkan penyakit selain menggunakan bunga edelweis ini. Beli saja obat di warung atau apotek, datang ke dokter, atau minum jamu tradisional.

Untuk alasan mengapa edelweis banyak dipetik, padahal memetik edelweis itu haram. Selengkapnya di Kenapa Edelweis Banyak Dipetik Orang dan Mengapa Itu Dilarang?

Mari jaga lingkungan, walau hanya dengan saling mengingatkan.